<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonesian                   Entrepreneur Society</title>
	<atom:link href="http://komunitaswirausaha.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://komunitaswirausaha.net</link>
	<description>Media Informasi Komunitas Wirausaha Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Aug 2010 03:37:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Memahami “The Cashflow Quadrant” karya  Robert Kiyosaki</title>
		<link>http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/</link>
		<comments>http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 09:11:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sherlly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Financial / Keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/</guid>
		<description><![CDATA[Bambang Suharno
Robert T Kiyosaki adalah  penulis buku Rich Dad Poor Dad, dan The Cash Flow Quadrant yang menjadi best seller di seluruh dunia. Karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan menjadi panduan penting bagi masyarakat yang ingin menjadi pengusaha dan investor.
“Banyak orang bergumul dengan kesulitan finansial, yang sebenarnya disebabkan mereka bertahun-tahun sekolah tapi tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bambang Suharno</p>
<p>Robert T Kiyosaki adalah  penulis buku Rich Dad Poor Dad, dan The Cash Flow Quadrant yang menjadi best seller di seluruh dunia. Karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan menjadi panduan penting bagi masyarakat yang ingin menjadi pengusaha dan investor.</p>
<p>“Banyak orang bergumul dengan kesulitan finansial, yang sebenarnya disebabkan mereka bertahun-tahun sekolah tapi tidak belajar apapun tentang uang. Hasilnya, orang bekerja untuk mendapatkan uang, dan tak pernah belajar bagaimana memiliki uang yang bekerja untuk mereka,”demikian ujar Robert dalam buku Rich Dad Poor Dad.</p>
<p>Robert adalah generasi keempat keturunan Amerika Jepang, yang lahir di besarkan di Hawaii. Ia berasal dari keluarga pendidik yang terkenal. Ayahnya seorang kepala Pendidikan  untuk negara bagian Hawaii. Selepas SMU, Robert melanjutkan pendidikannya di New York dan setelah lulus, ia bergabung dengan US marine Corp dan pergi ke Vietnam sebagai perwira dan pilot helikopter yang bersenjata. Sekembalinya dari perang, karier bisnis Robert dimulai. Tahun 1977 dia mendirikan sebuah perusahaan yang memproduksi dompet surfer dari velcro dan nilon yang pertama ada di pasaran, dan berkembang menjadi bisnis yang menghasilkan jutaan dollar.</p>
<p>Tahun 1985 ia mendirikan sebuah perusahaan pendidikan internasional yang beroperasi di tujuh negara, mengajarkan bisnis dan investasi kepada puluhan ribu orang.</p>
<p>Pada umur 47 tahun Robert melakukan sesuatu yang paling ia sukai, berinvestasi. Bisnis Robert adalah real estate dan mengembangkan perusahaan-perusahaan kecil. Namun gairah sejatinya adalah mengajar. Dia diakui sebagai pembicara hebat tentang pendidikan finansial dan tren ekonomi. Karyanya telah mengubah dan memberi inspirasi kepada jutaan orang di seluruh dunia.</p>
<p>Pesan Rober sangat jelas,”bertanggungjawablah atas keuangan anda atau hanya menerima nasib sepanjang hidup anda. Anda menjadi tuan atas uang atau budak uang. Terserah anda memilihnya.”</p>
<p>Berulang kali, dalam ceramah maupun dalam bukunya, Robert selalu mengajarkan agar kita jangan bekerja untuk mencari uang, tapi berusahalah agar uang bekerja untuk kita. Bukunya yang berjudul Rich Dad Poor Dad maupun The Cashflow Quadrant dengan penuh semangat dan dengan cara yang mudah dipahami, ia mengajarkan bermacam kiat agar kita menjadi kaya, dalam arti uang bekerja untuk kita, bukan kita bekerja untuk uang. </p>
<p>Casflow Quadrant</p>
<p>Karya Robert yang paling dikenal adalah membagi kategori hidup orang berdasarkan sumber penghasilan ke dalam 4 kuadran, yakni kuadran I E (employee/pegawai), Kuadran II S (Self Employed/pekerja lepas), Kuadran III B (business Owner/pemilik usaha), dan kuadran IV I (Investor/penanam modal).</p>
<p>Robert mengatakan, kebanyakan dari kita berpotensi memperoleh penghasilan dari keempat kuadran. Contoh kasus seorang dokter yang bekerja di sebuah rumah sakit dengan jabatan direktur, memiliki klinik spesialis anak, dan punya usaha perkebunan. Sebagai direktur rumah sakit, sang dokter ada di kuadran I (E), namun sebagai seorang ahli penyakit anak, ia bertindak sebagai self employed (S). Ia juga memiliki usaha perkebunan, yang berarti seorang business owner (B). Bisa jadi dokter itu juga melakukan investasi di sektor properti atau yang lainnya yang berarti masuk ketagori kuadran IV.</p>
<p>Nah sang dokter adalah orang yang lengkap hidupnya karena mengalami hidup dalam  kuadran I-IV.</p>
<p>Pesan-Pesan Ayah kaya</p>
<p>Jadi sebenarnya kita diberi ajaran 4 kuadran, untuk memilih salah satu atau bisa juga semuanya. Robert memang menganggap kuadran E sebagai yang paling miskin, dan Investor menjadi paling kaya.</p>
<p>Dalam bukunya yang terkenal itu Robert menggambarkan dirinya sebagai seorang yang lahir dari keluarga pegawai yang menghendaki Robert supaya belajar tekun bekerja di perusahaan atau pemerintah dan mendapat gaji baik dan sejumlah tunjangan dan uang pensiun. Sementara ia mengenal seorang teman yang sangat dekat dan ayahnya seorang kaya raya dan dermawan.</p>
<p>Ayah kaya (Rich Dad) itulah yang menarik perhatian Robert, hingga ia bisa belajar bagaimana mendapatkan kekayaan dengan cara yang cerdas. Dalam uraiannya, ayah kaya adalah seorang investor yang mengajarkan kepada Robert bagaimana menjadikan uang bekerja untuk robert.</p>
<p>Robert akhirnya memang benar-benar berhasil menjadi seorang yang kaya dengan menjadi investor.</p>
<p>Buku Ricd Dad maupun The Cashflow Quadrant menjanjikan kepada pembaca bahwa untuk menjadi kaya, seorang harus pindah dari kuadran kiri yakni seorang E dan S menjadi B atau I.</p>
<p>Seorang pekerja adalah seorang yang sangat tergantung kepada perusahaan. Hidupnya kelihatan enak, tapi sesungguhnya sangat beresiko. Seorang S bisa bekerja sendiri, masalahnya ia akan sangat tergantung kepada keahliannya.</p>
<p>Contohnya seorang dokter buka praktek. Ia bekerja siang malam melayani pasien karena banyaknya pasien di wilayahnya. Ia sangat terkenal di seluruh kota. Masalahnya ketika ia berlibur ia tidak bisa mendapatkan apa-apa.</p>
<p>Sementara jika kita hidup di kuadran kanan, baik sebagai pemilik bisnis maupun investor, ia bisa meninggalkan kantor dengan enak karena sistem bisnis berjalan dengan sendirinya.</p>
<p>Seorang E bekerja, seorang S memiliki pekerjaan sendiri, seorang B memiliki sistem dan orang-orang yang bekerja, dan seorang I menjadikan uang bekerja untuk dirinya. </p>
<p>Dalam sebuah perkembangan negara  jumlah orang yang hidup di kuadran I-IV  jumlahnya harus seimbang sehingga semua orang bisa hidup, baik sebagai pekerja, profesional, pemilik bisnis maupun investor.</p>
<p>Di Indonesia, kebanyakan orang mau hidup di kuadran I, sementara di kuadran III dan IV sangat sedikit, itulah sebabnya pengangguran ada dimana mana. Berbahagialah anda yang kini sudah hidup di kuadran III (sebagai business owner) dan IV (sebagai investor).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memulihkan Bisnis Yang Hampir Bangkrut</title>
		<link>http://komunitaswirausaha.net/2009/11/memulihkan-bisnis-yang-hampir-bangkrut/</link>
		<comments>http://komunitaswirausaha.net/2009/11/memulihkan-bisnis-yang-hampir-bangkrut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 04:50:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sherlly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship / kewirausahaan]]></category>
		<category><![CDATA[Comunity / Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[IES]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Money]]></category>
		<category><![CDATA[Wirausaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaswirausaha.net/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Bambang Suharno
Seorang pembaca buku saya “Langkah Jitu Memulai Bisnis Dari NOL” dan “Curhat Bisnis”, pada suatu kesempatan menyampaikan kegelisahannya mengenai betapa beratnya memulihkan bisnis yang hampir bangkrut.
Normi (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pemuda Lampung yang punya cita-cita ingin menjadi pengusaha sukses. Ia menjalankan usaha jasa perbaikan komputer, ia dirikan tahun 2003. Ia menjalankan usaha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Bambang Suharno</p>
<p style="text-align: justify">Seorang pembaca buku saya “Langkah Jitu Memulai Bisnis Dari NOL” dan “Curhat Bisnis”, pada suatu kesempatan menyampaikan kegelisahannya mengenai betapa beratnya memulihkan bisnis yang hampir bangkrut.</p>
<p style="text-align: justify">Normi (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pemuda Lampung yang punya cita-cita ingin menjadi pengusaha sukses. Ia menjalankan usaha jasa perbaikan komputer, ia dirikan tahun 2003. Ia menjalankan usaha ini di rumah (tinggal dengan orang tua dan belum menikah) dengan menempati ruang tamu. Rumahnya persis di pinggir jalan di daerah Lampung. Sebenarnya ingin mengontrak kios tapi belum ada biaya, sehingga ia menggunakan ruang tamu untuk usaha, meski dirasa kurang layak.</p>
<p style="text-align: justify">Sebelumnya ia bekerja di sebuah toko komputer sebagai tenaga teknisi, karena melihat peluang yang bagus, akhirnya keluar dan memutuskan untuk usaha sendiri. Pada awal usaha ia melayani jasa service saja, karena waktu itu tidak punya modal untuk menjual produk <em>hardware/accessories</em> komputer. Setelah berjalan beberapa waktu usahanya mulai berjalan baik sampai pada akhirnya ada seorang teman yang menawarkan pinjaman dana untuk pengadaan barang berupa <em>hardware/accessories</em> komputer. Ia menyepakati persyaratan yang dibuat, setelah dapat dana langsung membelanjakannya untuk <em>stock</em> barang.</p>
<p style="text-align: justify">Setelah beberapa waktu mulailah timbul masalah. Uang penjualan tercampur aduk dengan uang pribadi dan uang hasil jasa, pada akhirnya ia bingung dan tidak bisa mengelolanya hingga akhirnya gagal dan bangkrut, barang habis uang entah kemana, yang tinggal sekarang adalah hutang. “Saya sempat drop dan sempat berhenti, tapi saya sadar itu semua tidak menyelesaikan masalah, akhirnya tahun 2006 saya mulai buka lagi meskipun sudah tidak punya apa-apa dan menanggung hutang yang bagi saya nilainya cukup memberatkan, sampai sekarang usaha saya masih berjalan dan hanya melayani jasa service saja, “ katanya.</p>
<p style="text-align: justify"><span id="more-74"></span>Ia punya keinginan untuk membuat usaha menjadi besar, tidak hanya untuk pribadi, tapi juga ingin menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain, dan ia sadar itu tidak mudah. Itu sebabnya ia membaca buku saya dan mengirim email untuk mendapat tanggapan saya.</p>
<p style="text-align: justify">Saya menanggapinya sebagai berikut. Pertama, jika anda mengalami hal serupa, pesan saya ikhlas dan bersabarlah, apa yang anda alami adalah suatu anugerah untuk menjadi lebih tangguh menghadapi tantangan. Teruslah berupaya mengembangkan bisnis, jika tidak, pengalaman yang selama ini akan sia-sia belaka, tak ada nilainya. Jika diteruskan dengan sikap mau belajar yang tinggi, saya percaya di depan sana akan banyak orang yang mendukung anda.</p>
<p style="text-align: justify">Kedua, Anda pasti perlu dukungan orang lain, entah itu tenaga, pikiran dan modal. Untuk mendapatkan semua itu, jadilah anda pribadi yang mudah dibantu. Pribadi yang mudah dibantu adalah pribadi yang gampang bergaul, gampang membantu orang lain, jujur, dan punya cita-cita yang jelas. Cobalah anda lihat, orang-orang yang banyak menyendiri, menyepelekan persahabatan, menyelepekan amanah orang, kelak akan sulit mendapat dukungan orang lain. Dan jika anda selalu katakan ke orang-orang yang tepat bahwa anda akan mengembangkan bisnis anda menjadi sebesar perusahaan tertentu (carilah contoh di daerah anda yang cukup besar), para pendukung anda akan bicara “O o, kamu ingin seperti itu ya? Saya bisanya membantu doa, membantu tempat yang murah, membantu mengenalkan dengan seorang pengusaha ini dan seterusnya”. Dukungan seperti itu, akan datang. Percayalah. Dan tak usah kaget, kelak ada juga orang yang mencemooh. Abaikan saja mereka.</p>
<p style="text-align: justify">Ketiga, peganglah komitmen bahwa anda mau membayar hutang. “Terburu-burulah kalau anda membayar hutang,”begitu kata Pak Ustad. Jadi jika ada uang, segeralah mencicil hutang. Saya meyakini keseriusan mau membayar hutang akan membuat kita lebih mudah mendapatkan rejeki.</p>
<p style="text-align: justify">Keempat,   setiap hari, lakukanlah tindakan yang memungkinkan bertambahnya pelanggan, misalkan menyebar brosur, datang ke kantor-kantor menawarkan jasa anda, menelepon/kirim fax/email menawarkan jasa anda kepada para calon pelanggan dan lain-lain. Hasilnya tidaklah instan. Mungkin tahun depan baru akan terasa dampaknya. Tidak apa-apa, yang penting ada upaya untuk maju.</p>
<p style="text-align: justify">Kelima, mulailah berlatih disiplin dalam mengelola uang. Pisahkan uang pribadi dan uang bisnis. Buatlah anggaran berapa maksimal “gaji” anda di bisnis anda sendiri. Jika ada untung besar, tetaplah mengambil sedikit untuk kepentingan pribadi, teruslah perbesar bisnis anda dengan laba yang diperoleh agar kemajuan bisnis melaju lebih kencang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaswirausaha.net/2009/11/memulihkan-bisnis-yang-hampir-bangkrut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agar Bisnis Sambilan Tidak Merepotkan</title>
		<link>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/agar-bisnis-sambilan-tidak-merepotkan/</link>
		<comments>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/agar-bisnis-sambilan-tidak-merepotkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 09:57:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sherlly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship / kewirausahaan]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis Sambilan]]></category>
		<category><![CDATA[Comunity / Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[IES]]></category>
		<category><![CDATA[Wirausaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaswirausaha.net/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Sejak saya menulis buku berjudul ”Bisnis Sambilan; Langkah Awal Menjadi Entrepreneur Sukses”, wacana perihal bisnis sambilan mulai menjadi pembicaraan umum. Ada sedikit perdebatan di kalangan pebisnis, apakah karyawan boleh bisnis atau tidak.
Seorang pengusaha mengatakan, kalau karyawan dibiarkan bisnis sambilan, nanti dia tidak loyal kepada perusahaan. Saya katakan,” adakah di antara karyawan anda yang ikut multilevel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak saya menulis buku berjudul ”Bisnis Sambilan; Langkah Awal Menjadi Entrepreneur Sukses”, wacana perihal bisnis sambilan mulai menjadi pembicaraan umum. Ada sedikit perdebatan di kalangan pebisnis, apakah karyawan boleh bisnis atau tidak.</p>
<p>Seorang pengusaha mengatakan, kalau karyawan dibiarkan bisnis sambilan, nanti dia tidak loyal kepada perusahaan. Saya katakan,” adakah di antara karyawan anda yang ikut multilevel marketing ?” Ia menjawab kelihatannya ada, soalnya hal tersebut sulit dilarang dan memang belum ada aturannya.</p>
<p>Nah, bisnis sambilan yang benar mestinya tidak perlu meluangkan waktu sebanyak karyawan yang melakukan multilevel marketing. Dan bisnis sambilan yang baik akan lebih ringan dibandingkan bekerja sambilan, kalau tahu cara-caranya. Yang mestinya dilarang adalah bekerja sambilan, karena pada umumnya kalau karyawan bekerja di dua institusi, menuntut adanya loyalitas ganda. Lagi punya kerja sambilan menuntut energi yang lebih besar.</p>
<p>Dalam sebuah talkshow di radio, ada seorang pensiunan yang mengaku menyesal tidak belajar bisnis sejak muda. ”Sekarang saya sudah pensiun, sedangkan anak saya masih kuliah, biayanya tidak mungkin dicukupi hanya dari uang pensiun. Semasa karir saya cemerlang dan uang cukup banyak, saya selalu menghambur-hamburkan untuk hal-hal konsumtif,” urainya.</p>
<p><span id="more-65"></span>Saya melihat di lingkungan keluarga maupun tempat tinggal. Ada mantan pegawai Bank yang harus menjual rumah di Jakarta untuk membiayai anaknya. Dia pindah ke pingiran kota dengan rumah yang lebih murah dan dapat hidup dari uang pensiun plus sisa uang hasil jualan rumah. Ada juga yang pensiunan Guru yang kesulitan membiayai anaknya kuliah, harus hutang sana sini, padahal sewaktu masih bekerja, tak ada masalah dengan kondisi ekonominya.</p>
<p>Sebaliknya di pedesaan saya melihat banyak pegawai negeri yang “tetap tenang” menghadapi masa pensiun. Setelah saya amati, bukan lantaran karena biaya hidup di pedesaan lebih murah, melainkan mereka secara tradisi telah terbiasa menyisihkan uangnya untuk bisnis sambilan. Tak sedikit guru sekolah dasar bisa membiayai putranya kuliah karena sejak muda mereka menyisihkan uang untuk membeli sawah dan kebun, ada yang punya kios di pasar, atau punya peliharaan ternak. Mereka tetap berkarir bagus dan juga punya cadangan penghasilan untuk masa pensiun. Mereka telah terbiasa menerapkan prinsip entrepreneur, yakni sebagian penghasilan (gaji) diputar menjadi uang lagi.</p>
<p>Sementara di kota metropolitan yang dipenuhi dengan petuah ”bekerja secara profesional”, para pegawai bekerja keras siang malam untuk mendapatkan gaji. Celakanya semua gaji digunakan untuk pengeluaran yang konsumtif. Mereka bekerja keras untuk mendapatkan uang yang akan hilang dalam waktu sebulan. Dan, sebagaimana saya lihat, di masa pensiun mereka kelabakan.</p>
<p>Bagi anda yang masih berstatus karyawan atau profesional dan mau berbisnis sambilan, sebaiknya perhatikan hal-hal berikut ini:</p>
<p>Meskipun anda sekarang bergaji sepuluh juta sebulan, jangan sepelekan bisnis yang tampaknya sederhana. Jika bisnis sederhana itu bisa didelegasikan ke orang lain, itu pertanda bagus untuk anda masuki, karena meskipun pendapatannya sedikit, anda punya waktu untuk mengembangkannya dalam bentuk buka cabang baru atau skalanya diperbesar.</p>
<p>Kalau ada bisnis yang hasilnya sangat besar tapi harus menyita banyak waktu anda, sebaiknya anda hati-hati memasukinya. Misalkan, ada peluang menjadi supplier barang ke lembaga pemerintah. Untuk sukses melakukan transaksi dalam jumlah besar, anda harus menyediakan waktu untuk negosiasi dengan pihak pembeli melalui berbagai tahapan yang menyita waktu. Bisnis sambilan seperti ini akan menggangu kinerja anda sebagai karyawan.</p>
<p>Sebaiknya mulailah dari bisnis yang sederhana, yang dapat didelegasikan ke orang lain. Pada awalnya anda mungkin harus meluangkan waktu untuk mendidik karyawan anda, mengajari mereka membuat laporan, atau membuat sistem kerja . Tapi setelah bisnis berjalan, anda tinggal memantau dan mengarahkan bisnis yang anda bangun tersebut.</p>
<p>Bisnis seperti tambal ban, warteg, air minum isi ulang, warnet, meski sederhana kalau terus dilipatgandakan kira-kira dalam 5 tahun anda memperoleh hasil yang lumayan bagus. Dalam seminar Bisnis Sambilan yang diselenggarakan IES setiap bulan, saya sampaikan hitung-hitungannya, bagaimana seorang karyawan menyisihkan 20% gaji untuk menjadi bisnis, dan dalam 5 tahun hasil bisnis tersebut minimal sudah sama dengan gaji saat itu.</p>
<p>Selanjutnya, fokus pada satu bidang yang anda sudah tahu cara pengembangannya. Misalnya sudah berhasil buka warung bakso, sebaiknya tinggal diduplikasikan saja dengan membuka cabang baru. Ini lebih mudah dibandingkan mendirikan bisnis baru yang anda belum memahami polanya.</p>
<p>Mengembangkan bisnis adalah menyederhanakan hal-hal rumit. Jadi fokus pada cara-cara menyederhakan sistem kontrol karyawan, khususnya dalam hal pendapatan dan pengeluaran. Jangan lupa, buat sistem insentif yang menarik untuk karyawan, sehingga mereka termotivasi untuk mengembangkan bisnis anda. Ingat, anda tidak punya waktu banyak untuk karyawan anda, jadi perlu dibuat sistem insentif yang baik dalam arti dapat memotivasi karyawan, sekaligus meningkatkan menguntungkan bisnis anda.</p>
<p>Untuk dapat berkembang lebih cepat, anda perlu mengembangkan kerjasama bagi hasil, khususnya jika mau buka outlet baru.  Anda cari lokasi yang bagus dan tawarkan kerjasama bagi hasil kepada orang lain yang punya uang yang siap diinvestasikan.</p>
<p>Yang tak kalah pentingnya, jika ada laba jangan digunakan untuk belanja konsumtif tapi untuk pengembangan bisnis. Saya sarankan anda bersabar, jangan buru-buru menikmati hasil bisnis sambilan, toh anda sudah punya penghasilan tetap. Setiap ada laba, putar lagi untuk membuka cabang baru atau memperbesar skala usaha. Jika laba sudah bisa membiayai hidup anda, anda boleh mulai menikmatinya.</p>
<p>Jangan lupa, jika anda sudah punya komitmen untuk berbisnis, berpikir dan bertindaklah anda sebagai orang yang hidup di dunia tanpa gaji yakni dunia entrepreneur. Untuk sukses hidup di dunia tanpa gaji, anda harus lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang hidup di dunia tanpa gaji juga, yakni para entrepreneur.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/agar-bisnis-sambilan-tidak-merepotkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEMINAR</title>
		<link>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/seminar-gratis/</link>
		<comments>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/seminar-gratis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 15:01:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seminar]]></category>
		<category><![CDATA[Comunity / Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Seminar Gratis]]></category>
		<category><![CDATA[Wirausaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaswirausaha.net/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Kepada Yth.
Bapak &#038;Ibu,
Sewaktu bekerja apalagi di perusahaan yang sudah mapan, kita merasa seolah-olah segalanya berjalan dengan lancar dan tidak akan ada hal-hal yang bisa menghambat aliran rejeki ke rekening kita sebagai karyawan. Akan tetapi seiring dengan meningkatnya pendapatan gaji maka pengeluaran konsumsi  juga mengalami peningkatan bahkan melebihi kenaikan pendapatan gaji karena perubahan gaya hidup.
Namun bagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada Yth.<br />
Bapak &#038;Ibu,</p>
<p>Sewaktu bekerja apalagi di perusahaan yang sudah mapan, kita merasa seolah-olah segalanya berjalan dengan lancar dan tidak akan ada hal-hal yang bisa menghambat aliran rejeki ke rekening kita sebagai karyawan. Akan tetapi seiring dengan meningkatnya pendapatan gaji maka pengeluaran konsumsi  juga mengalami peningkatan bahkan melebihi kenaikan pendapatan gaji karena perubahan gaya hidup.</p>
<p>Namun bagaimana kalau kita tiba tiba berhenti dari pekerjaan, bisa karena Faktor usia alias pensiun atau karena adanya pengurangan karyawan  misalkan perusahaannya terkena imbas krisis ekonomi global,  mau tidak mau kita tidak bisa menstop kebutuhan hidup, Oleh Karena itu selagi kita masih menjadi karyawan kita bisa merubah gaji menjadi Passive Income atau dengan kata lain berani untuk  memulai bisnis. Ikuti Seminarnya!</p>
<p>Tgl              :   Sabtu, 7 Agust 2010, Pk. 09.00 – 15.00 WIB<br />
Tempat        :    STIE Tunas Nusantara Jl. Budi, dewi Sartika, Cawang<br />
Tema          :   ”Bisnis Sambilan, Cara Cerdas Menjadi Karyawan sekaligus Business Owner&#8221; (angkatan 44)<br />
Pembicara :</p>
<p>1. BAMBANG SUHARNO (Direktur Indonesian Entrepreneur Society,  pemilik usaha Resto Cici Tegal, Pemilik 5 Warnet Idol@net, Direktur PT. Gallus Indonesia Utama, Penulis Best Seller Langkah Jitu Memulai Bisnis Dari Nol,narasumber bincang bisnis di radio RPK FM, Delta FM, Bahana dan radio lainnya. Peraih Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award (ISMBEA) 2010</p>
<p>2. Waryono ( Masih Seorang Office Boy, Owner Pecel lele 2 cabang, Tanaman Hias  beberapa cabang, Sewa Traktor, Sembako, dan Bengkel spareparts aksesoris motor</p>
<p>3. Amir Hamzah (pensiunan PNS, pengalaman ekspor bandeng, furniture, dan sekarang pemilik kebun pepaya dan supplier sayur mayur, agroprima.com)</p>
<p>Pendaftaran Seminar ke 021. 7022 8877 </p>
<p>Hanya Rp 350.000 (harga normal 500 ribu)<br />
Seminar ini cocok untuk karyawan yang masih aktif bekerja, Profesional, dan Yang akan/ ingin  memulai Usaha.</p>
<p>Regard,</p>
<p>Indonesian Entrepreneur Society<br />
Plaza 3 Pondok Indah Blok A2</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/seminar-gratis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin di-PHK Untuk Cari Modal</title>
		<link>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/ingin-di-phk-untuk-cari-modal/</link>
		<comments>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/ingin-di-phk-untuk-cari-modal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 03:33:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship / kewirausahaan]]></category>
		<category><![CDATA[Bambang Suharno]]></category>
		<category><![CDATA[Comunity / Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Ethos Wirausaha]]></category>
		<category><![CDATA[IES]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Mau PHK]]></category>
		<category><![CDATA[Money]]></category>
		<category><![CDATA[PHK]]></category>
		<category><![CDATA[Wirausaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaswirausaha.net/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Bambang Suharno
Alkisah ada seorang eksekutif sedang bosan bekerja. Ia ingin menjadi entrepreneur, tapi untuk mendapat modal yang cukup ia ingin diPHK. “Saya sudah bosan bekerja, jadi biarlah perusahaan memecat saya, nanti pesangon akan saya gunakan untuk modal bisnis saya” demikian ia selalu berbicara kepada teman-temannya.
Temannya itu bertanya, apakah tindakan ini bisa dipertanggungjawabkan untuk mengawali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Bambang Suharno</p>
<p>Alkisah ada seorang eksekutif sedang bosan bekerja. Ia ingin menjadi entrepreneur, tapi untuk mendapat modal yang cukup ia ingin diPHK. “Saya sudah bosan bekerja, jadi biarlah perusahaan memecat saya, nanti pesangon akan saya gunakan untuk modal bisnis saya” demikian ia selalu berbicara kepada teman-temannya.</p>
<p>Temannya itu bertanya, apakah tindakan ini bisa dipertanggungjawabkan untuk mengawali keberanian berwirausaha? Sungguh ini pertanyaan menarik. Saya menduga tidak sedikit karyawan mapan yang berpikir seperti itu. Mereka merasa mendirikan bisnis sendiri itu lebih gampang daripada menjadi karyawan perusahan besar. Kalau sudah ada ide bisnis, bolehlah bermalas-malasan, nanti kalau dipecat tinggal minta pesangon dan mulai berwirausaha.</p>
<p>Terus terang, saya tidak yakin karyawan yang punya pesangon besar ini benar-benar mau dan mampu menjadi entrepreneur. Karena sejak awal dia sudah memiliki niat tidak baik terhadap perusahaan tempat dia bekerja.</p>
<p><span id="more-47"></span>Dengarkan saja alasan kelompok orang ini,” saya sih pinginnya punya bisnis, tetapi modal kagak punya”. Padahal gajinya berkali lipat dari yang namanya Upah Minimun Regional (UMR), plus sejumlah fasilitas seperti kendaraan, asuransi dan sebagainya.</p>
<p>Orang-orang di kelompok ini selalu punya kata-kata “belum punya modal” biarpun gajinya puluhan juta rupiah. Tatkala gajinya masih Rp 1 juta, ia berpikir kelak jika gaji sudah Rp 2 juta sudah lumayan. Tapi ketika benar-benar bergaji Rp 2 juta, pikirannya adalah memiliki sepeda motor, handphone terbaru ataupun pesawat televisi dengan cara kredit. Alhasil gajinya ludes buat membayar cicilan hutang.</p>
<p>Dikala  gajinya meningkat lagi, pengeluarannya terus mengimbanginya, sehingga tak ada uang yang tersisa untuk investasi.</p>
<p>Secara umum, sebenarnya manusia memiliki tiga kebutuhan utama dalam hidup, yakni kebutuhan pokok (berupa sandang, pangan, papan), kebutuhan proteksi dan kebutuhan investasi. Kebutuhan investasi inilah yang kerapkali tidak disadari urgensinya.</p>
<p>Kebutuhan akan investasi adalah kebutuhan jangka panjang. Ia menjadi penting bagi orang-orang yang berpikir jangka panjang. Bagi orang yang berpikir ”yang penting sekarang, besok kita pikir lagi” investasi adalah pekerjaan ”nanti dulu”, dengan alasan, tidak ada uang yang bisa disisihkan.</p>
<p>Dan ternyata, orang-orang hebat dalam berbisnis adalah mereka yang selalu berusaha menyisihkan penghasilannya untuk investasi. Setiap mereka mendapatkan hasil dari suatu usaha, ia selalu menyisihkan sebagian untuk pengembangan usahanya. Cukup sederhana bukan?</p>
<p>Kalau begitu, ketekunan ”menyisihkan uang” sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk para karyawan yang bercita-cita punya bisnis. Caranya?</p>
<p>Pertama, ubah cara mengelola uang. Pada umumnya kita menyisihkan uang untuk menabung maupun investasi apabila ada kelebihan uang belanja. Cara ini sama sekali tidak efektif, karena biasanya berapapun uang yang diterima setiap bulan selalu habis untuk memenuhi keinginan belanja yang kurang terkendali. Bahkan banyak yang habis untuk membayar cicilan hutang.</p>
<p>Mulai sekarang ubahlah  cara menyimpan uang. Sisihkan terlebih dahulu penghasilan anda untuk cadangan investasi, baru kemudian diatur belanja bulanan dengan dana yang ada. Misalkan anda punya penghasilan Rp 5 juta, sebulan, segeralah sisihkan sebagian penghasilan tersebut untuk ditabung, baru kemudian sisanya diatur supaya cukup untuk kebutuhan bulanan. Anda belum punya rencara bisnis? Tidak masalah, yang penting mulai menyisihkan uang terlebih dahulu.</p>
<p>Kedua, komitmen waktu. Kerap kali kita merasa sudah terlalu sibuk dengan rutinitas kantor yang juga menguras tenaga. Kuncinya ada di kekuatan cita-cita anda dan komitmen untuk menyisihkan waktu. Bisakah anda menyisihkan 10% saja waktu anda setiap hari? Caranya tidak sulit, kurangi penggunaan waktu yang kurang produktif, misalkan nonton TV terlalu lama. Jika bisa, anda berpeluang memiliki bisnis yang terus berkembang dan dapat lebih siap pensiun dini tanpa harus menunggu pesangon dari perusahaan.</p>
<p>Ketiga, berlatih mengelola manusia alias memimpin. Kepemimpinan yang baik sangat mendukung efektivitas penggunaan waktu. Cobalah anda perhatikan kenapa ada seorang yang dapat memberi pengarahan hanya satu jam di depan karyawan, dan para karyawan langsung bersemangat melaksanakan petunjuk sang pimpinan? Pemimpin bisnis semacam ini cukup meluangkan waktu sedikit untuk mengembangkan bisnisnya. Mereka bisa mengendalikan beberapa kegiatan dalam satu waktu. Tak usah heran, pemimpin semacam ini punya kegiatan sosial yang cukup padat dan bisnisnya tetap dapat berjalan baik.</p>
<p>Jadi siapa bilang untuk mengembangkan bisnis, anda harus meluangkan waktu sekian jam setiap hari?</p>
<p>Bila anda sudah mampu mengikuti langkah di atas, tak lagi jadi soal, anda sekarang karyawan rendahan, supervisor, manajer, calon pensiunan atau jabatan apapun, anda akan siap berlatih mengelola uang menjadi bisnis. Tak perlu dirisaukan pula bisnis apa yang harus anda pilih, karena begitu anda punya niat bisnis, anda tinggal jalan-jalan keliling kota, baca majalah, ikuti seminar-seminar bisnis, pasti akan ada yang bisa anda pilih.</p>
<p>Kembali ke cerita eksekutif yang ingin dipecat tadi. Ternyata setelah benar-benar diPHK, ia agak kelimpungan. Ia coba membuka bisnis, dan hasilnya di luar dugaan, bisnisnya malah bangkrut. Alhasil ia kembali melamar kerja. Maka dari itu, luruskanlah niat untuk berbisnis yang baik. Sesungguhnya Tuhan Maha Pemurah.***<br />
Email: bambangsuharno@telkom.net telp: 021.70228877</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/ingin-di-phk-untuk-cari-modal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemanakah Uang Mengalir?</title>
		<link>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/kemanakah-uang-mengalir/</link>
		<comments>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/kemanakah-uang-mengalir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 04:18:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Financial / Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Bambang Suharno]]></category>
		<category><![CDATA[Comunity / Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Money]]></category>
		<category><![CDATA[Wirausaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaswirausaha.net/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Bambang Suharno
Ya, kemanakah uang mengalir? Tepatnya, kemanakah uang “halal” mengalir? Pertanyaan ini barangkali sering anda lupakan. Kita yang bergulat dengan kewirausahaan terus menerus belajar, membaca buku, mendengarkan radio, ikut training, seminar, pameran dimana sebagian besar tujuannya untuk menambah penghasilan. Penghasilan adalah aliran rejeki, dan sebagian rejeki berupa uang.
Maka, sebelum belajar lebih jauh mengenai kiat sukses [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bambang Suharno</p>
<p>Ya, kemanakah uang mengalir? Tepatnya, kemanakah uang “halal” mengalir? Pertanyaan ini barangkali sering anda lupakan. Kita yang bergulat dengan kewirausahaan terus menerus belajar, membaca buku, mendengarkan radio, ikut training, seminar, pameran dimana sebagian besar tujuannya untuk menambah penghasilan. Penghasilan adalah aliran rejeki, dan sebagian rejeki berupa uang.</p>
<p>Maka, sebelum belajar lebih jauh mengenai kiat sukses mendapatkan kekayaan, mendapatkan passive income atau apapun namanya, kita perlu terlebih dahulu memahami dari mana dan kemana uang mengalir. Dengan pemahaman ini kita akan lebih mudah mengelola kiat meningkatkan penghasilan. Berikut pendapat saya mengenai aliran uang.</p>
<p>Pertama, uang halal mengalir kepada mereka yang selalu berusaha mengalirkan uang ke orang yang membutuhkan. Pernahkah anda menemukan pengusaha bangkrut karena bersedekah? Saya percaya tidak ada. Mental entrepreneur hakekatnya adalah mental “tangan di atas” alias mental memberi. Dalam keseharian mental ini terlihat dari cara-cara mengelola uang. Mereka yang bermental “tangan di bawah” sering bangga apabila mendapat sesuatu secara gratis. Mereka bangga jika ditraktir makan, bangga dikasih kaos gratis, bangga diberi hadiah, bantuan atau apapun yang gratis. Sebaliknya mental entrepreneur akan merasa bangga bila sudah mentraktir makan, memberi sumbangan, memberi hadiah.</p>
<p><span id="more-42"></span>Orang-orang yang selalu berusaha memberi akan mencari cara supaya dapat terus memberi. Alhasil secara logis, anda yang suka memberi akan selalu berusaha memiliki, dan dampaknya tentu saja akan dialiri rejeki yang tak terbatas. Maka, sedekahlah. Jangan tunggu kaya baru sedekah. Justru karena masih susah mendapatkan uang, mulailah menyisihkan uang untuk diberikan ke orang lain. Niscaya kelak akan banyak uang mengalir ke kantong anda. Teruslah perbanyak sedekah, rejeki akan terus mengalir. Begitu kita bersedekah, mental kita berubah menjadi ”tangan di atas”, dan pada saat yang sama kita menjadi bermental kaya.</p>
<p>Kedua, uang mengalir kepada para pencipta atau kreator. Anda yang pandai menciptakan sesuatu, akan lebih mudah mendapatkan uang. Menciptakan yang dimaksud bukan selalu yang tampak canggih seperti mesin mobil hemat energi, mobil berbahan bakar air atau lainnya, tapi juga menciptakan sistem dalam bisnis, menciptakan standar tertentu, program komputer tertentu, menulis buku dan sebagainya. Pencipta akan selalu dikenang sebagai pemenang. Dalam bisnis, kita boleh meniru pada awalnya, sedangkan untuk berkembang perlu melakukan inovasi.</p>
<p>Ketiga, uang mengalir kepada yang menciptakan nilai tambah. Jika anda punya warung makan bersebelahan dengan warung makan lain yang lebih laris, anda wajib melihat nilai tambah yang dia miliki. Begitu anda memiliki nilai tambah dibanding warung lain, anda akan tenang karena rejeki akan mengalir ke kantong anda.</p>
<p>Keempat, uang mengalir kepada yang pintar meningkatkan produktivitas uang. Saya menyebutnya mental entrepreneur, yakni mental mengeluarkan uang untuk menjadi uang yang lebih banyak. Robert T Kiyosaki memperkenalkan istilah ”uang bekerja untuk kita” bukan kita bekerja untuk uang. Pesan saya, jika rekening anda ada tambahan uang, mulailah berpikir kemana uang tersebut akan dialirkan. Sebagian untuk sedekah, sebagian untuk pengembangan usaha, sebagian untuk investasi, sebagian lagi untuk keperluan konsumtif. Sebagian dari kita, jika mendapatkan uang langsung berpikir yang konsumtif seperti membeli mobil baru, motor baru dan hal-hal lain yang justru menimbulkan pengeluaran baru.</p>
<p>Beberapa waktu lalu saya pergi ke daerah pemukiman transmigrasi di Lampung. Mereka mulai menghuni di sana sejak tahun 1983, dimana pemerintah menyediakan 2 Ha lahan dan biaya hidup untuk 1,5 tahun. Apa yang terjadi 20 tahun kemudian? Ternyata kepemilikan lahan sudah berubah total. Ada yang sudah memiliki 10 Ha, ada juga yang lahannya dijual dan dia sebagai petani penggarap. Hal ini terjadi karena sebagian ada yang produktif mengelola uang, sebagian lagi lebih memilih menjual tanah untuk memperbaiki rumah atau beli kendaraan, dimana dalam beberapa tahun kemudian mereka mengalami kesulitan pendapatan.</p>
<p>Perhatikanlah, uang tidak berhenti bergerak. Ia terus mengalir dari satu tempat ke tempat lain. Entrepreneur bukanlah yang menumpuk uang, melainkan mengalirkan uang. Jika anda punya restoran, anda bekerja dengan cara membeli bahan baku, mengolah menjadi masakan, lantas masakan dijual, beli bahan baku lagi, dan begitu seterusnya, dimana jika aliran lancar maka aliran uang akan semakin besar.</p>
<p>Maka pahamilah kemana uang mengalir.</p>
<p>Salam sukses ***</p>
<p>Email bambangsuharno@telkom.net<br />
Telp. 021.70228877</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/kemanakah-uang-mengalir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Ethos Wirausaha Untuk Kesinambungan Bisnis Keluarga</title>
		<link>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/tiga-ethos-wirausaha-untuk-kesinambungan-bisnis-keluarga/</link>
		<comments>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/tiga-ethos-wirausaha-untuk-kesinambungan-bisnis-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 10:02:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship / kewirausahaan]]></category>
		<category><![CDATA[Comunity / Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Ethos Wirausaha]]></category>
		<category><![CDATA[IES]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Money]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaswirausaha.net/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Bambang Suharno
Direktur Indonesian Entrepreneur Society (IES)
Pada saat tulisan ini disusun, saya baru saja menyelesaikan sebuah buku berjudul “Sembilan  Dosa Bisnis Keluarga dan Solusinya” yang beredar bulan September 2009. Buku ini saya susun untuk memberikan pencerahan kepada pelaku bisnis keluarga atau calon pebisnis yang pada umumnya dimulai dengan bisnis (skala) keluarga agar mereka tidak terjebak pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bambang Suharno<br />
Direktur Indonesian Entrepreneur Society (IES)</p>
<p>Pada saat tulisan ini disusun, saya baru saja menyelesaikan sebuah buku berjudul “Sembilan  Dosa Bisnis Keluarga dan Solusinya” yang beredar bulan September 2009. Buku ini saya susun untuk memberikan pencerahan kepada pelaku bisnis keluarga atau calon pebisnis yang pada umumnya dimulai dengan bisnis (skala) keluarga agar mereka tidak terjebak pada masalah 9 masalah utama yang saya identifikasi dalam buku ini berikut alternatif solusinya.<br />
Dalam salah satu babnya, disebutkan bahwa salah satu masalah utama dalam kesinambungan bisnis keluarga adalah rendahnya ethos kerja para pewaris. Ini mengakibatkan banyak bisnis keluarga mengalami kemunduran tatkala diteruskan oleh generasi kedua. Pameo yang populer di kalangan kita mengenai bisnis keluarga adalah, generasi pertama membangun dengan keringat bercucuran, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga menutup. Bahkan tak sedikit kejadian, generasi pertama membangun, generasi kedua menutup.<br />
Saya akhirnya berkesimpulan, ternyata bukan hanya “ethos kerja” yang perlu ditekankan pada generasi pewaris melainkan juga “ethos wirausaha”.  Barangkali ini istilah baru mengenai Ethos, itu sebabnya saya perlu merumuskan mana yang dimaksud ethos kerja dan mana ethos wirausaha. Ini saya perlukan karena dalam kenyataannya, tak sedikit generasi pewaris yang ethos kerjanya bagus, tapi tak dapat menjalankan kesinambungan bisnis orang tua mereka.<span id="more-38"></span><br />
Tak sedikit pengusaha yang putra-putrinya memiliki ethos kerja yang baik. Mereka disekolahkan di sekolah terbaik, dididik dengan disiplin yang ketat, terbiasa berkompetisi di kelas, dan lulus dengan nilai terbaik. Para keturunan pebisnis ini lantas bekerja di perusahaan besar atau di lembaga pemerintahan. Mereka sibuk dengan karirnya, sementara ayahnya berusaha terus melanjutkan pengembangan bisnis yang dirintis sejak muda. Apa yang terjadi dikala pebisnis ini semakin tua? Putranya terlampau sibuk dengan karirnya, sehingga kurang berminat dengan bisnis orang tuanya. Padahal semua orang tahu, berkat bisnis ayahnyalah ia bisa sekolah hingga perguruan tinggi.<br />
Sementara sang anak semakin bekerja keras untuk dirinya, sang ayah merasa apa yang dirintisnya kini sulit diwariskan ke anaknya, akibat anaknya memiliki ethos kerja yang hanya bermanfaat untuk karirnya saja, bukan untuk pengembangan bisnis yang diwariskan dari orang tua kepadanya.<br />
Di kampung saya, ada daerah dimana waktu saya kecil sepanjang jalan kota dipenuhi toko-toko yang pemiliknya adalah penduduk setempat. Toko-toko itu maju pesat di tangan pendiri. Toko-toko itu kini lebih maju lagi, tapi sayangnya kini pemiliknya bukanlah generasi pewaris sang pendiri. Sesungguhnya anak-anak pendiri toko bukanlah pemalas, melainkan haluan hidupnya tidak lagi dengan berwirausaha.<br />
Adapula pengusaha yang memiliki daya kepimpinan kharismatik dalam mengembangkan bisnisnya. Intuisinya bagus dan cemerlang. Ia tidak kelihatan sibuk sebagaimana eksekutif, namun sekali bertemu dengan timnya di kantor, ia langsung dapat mengambil keputusan strategis untuk mengembangkan bisnis. Ketika anaknya mulai menggantikannya, tidak ada aura kewibawaan seorang pemimpin bisnis. Yang terasa di lingkungan perusahaan adalah seorang anak cerdas, bekerja keras, namun kurang wibawa. Terlebih lagi, sang pewaris ini lebih suka hidup dalam kemewahan, dan kurang punya sifat kedermawanan. Sudah bisa ditebak, di tangan anaknya, bisnis keluarga ini semakin merosot.</p>
<p>Tiga Ethos Wirausaha<br />
Saya merenung, kalau demikian kejadiannya, berarti bagi sang pewaris bisnis keluarga, bukan hanya ethos kerja yang mereka butuhkan, melainkan ethos yang lainnya, yang kemudian saya sebut ethos wirausaha. Saya merumuskan 3 ethos utama wirausaha yang selalu menjadi ciri pengusaha hebat dan mulia, yaitu ethos uang produktif, ethos pemberdaya dan ethos tangan di atas.<br />
Pesan utama dari ethos uang produktif adalah sisihkan sebagian penghasilan anda untuk menciptakan penghasilan baru atau untuk menambah penghasilan utama. Cobalah kita lihat banyak pengusaha yang bisnisnya terus berkembang. Mereka bukan berarti tak pernah bangkrut, melainkan “mati satu tumbuh seribu”. Setiap mendapat hasil, yang diutamakan bukan membeli mobil baru atau tempat tinggal yang lebih mewah, melainkan menyisihkan agar tercipta penghasilan baru. Jika gagal, cari alternatif lain. Begitu seterusnya.<br />
Untuk menunjang sikap “uang produktif” mereka, para pengusaha hebat, memiliki ethos pemberdaya, yaitu adalah kemampuan, kemauan dan kebanggaan untuk memberdayakan orang lain. Ya, kalau dalam beberapa perbincangan pebisnis pemula sering kita dengar orang mengeluh tidak dapat mencari karyawan yang jujur, maka ia perlu mengoreksi diri apakah selama ini ia lebih bangga mengerjakan kegiatan bisnis sendirian atau lebih bangga memberdayakan orang lain. Kalau pusing memimpin karyawan, itu bisa jadi pertanda belum tumbuh ethos pemberdaya dalam jiwanya.<br />
Ethos pemberdaya akan membuat bisnis lebih maju karena kemampuan memberdayakan orang lain. Itu sebabnya mereka yang punya ethos pemberdaya senantiasa belajar memimpin dan mendelegasikan pekerjaan.<br />
Ethos Tangan Di Atas, sebenarnya paling mudah diaplikasikan. Pesan utamanya adalah, janganlah anda jadi pengusaha yang pelit. Kemajuan bisnis anda akan menjadi berkah bagi keluarga anda manakala anda menjadi orang dermawan. Lanjutannya, kedermawanan anda akan mendorong kemajuan bisnis anda. Semakin banyak memberi, akan semakin banyak menerima, artinya bisnis anda semakin maju.<br />
Bukan itu saja, dengan pola pikir sebagai pemberi, anda sudah melampaui apa yang disebut kemandirian yang kerap didengungkan pemerintah. Kemandirian adalah sikap mengenai bagaimana anda  bisa membangun usaha tanpa bantuan orang lain. Sedangkan ethos tangan di atas adalah mandiri dan berbagi. Buat apa mandiri tapi pelit?<br />
Ethos tangan di atas juga membuat anda selalu berpikir dan bertindak sebagai orang yang membantu, bukan yang minta bantuan, karena dengan banyak membantu, otomatis banyak dibantu. Negara-negara maju bukanlah selalu negara kaya, melainkan karena sikap pemimpinan yang suka membantu negara lain. Mereka membantu bukan karena kaya, melainkan karena sering membantu maka jadi kaya.<br />
Nah, jika para pewaris bisnis keluarga punya ethos di atas, tak usah khawatir, bisnis keluarga akan berbiak dan membesar sampai ”tujuh turunan”.***</p>
<p>Bambang Suharno<br />
Penulis Buku-buku wirausaha<br />
Buku terbaru:<br />
1.    Sembilan ”Dosa” Bisnis Keluarga dan Solusinya<br />
2.    Tujuh Cara Tidak Gila Jadi Pengusaha<br />
3.    Tujuh Kiat Bisnis Tahan Krisis<br />
Telp: 021.70228877, email: bambangsuharno@telkom.net bambangsuharno@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/tiga-ethos-wirausaha-untuk-kesinambungan-bisnis-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Mempertahankan Pelanggan?</title>
		<link>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/bagaimana-mempertahankan-pelanggan/</link>
		<comments>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/bagaimana-mempertahankan-pelanggan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 08:55:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Customer /Pelanggan]]></category>
		<category><![CDATA[Comunity / Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[IES]]></category>
		<category><![CDATA[Wirausaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaswirausaha.net/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[ 
Bagaimana Mempertahankan Pelanggan?
Adi Kriswanto
Dalam tulisan saya sebelumnya telah saya sampaikan bahwa pelanggan adalah sumber profit atau sumber keuntungan, artinya sekalipun kita memiliki produk yang menurut ukuran kita bagus, murah dan berkualitas, mungkinkah kita akan mendapatkan profit yang besar tanpa adanya pelanggan. Tentu jawabannya adalah tidak. Pelanggan di sini yang maksud adalah konsumen yang mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Bagaimana Mempertahankan Pelanggan?</strong><strong><br />
Adi Kriswanto</strong></p>
<p>Dalam tulisan saya sebelumnya telah saya sampaikan bahwa pelanggan adalah sumber profit atau sumber keuntungan, artinya sekalipun kita memiliki produk yang menurut ukuran kita bagus, murah dan berkualitas, mungkinkah kita akan mendapatkan profit yang besar tanpa adanya pelanggan. <strong>Tentu jawabannya adalah tidak</strong>. Pelanggan di sini yang maksud adalah konsumen yang mau membeli dan membeli lagi alias <strong><em>repeat order</em></strong>, bukan pelanggan yang sekali beli terus berpindah ke produk atau perusahaan lain.</p>
<p>Dalam pengalaman saya memimpin sebuah organisasi yang bergerak di bidang jasa atau distribusi barang, ternyata mendapatkan pelanggan baru relatif lebih sulit, mengapa :</p>
<ol>
<li>karena di sekitar kita bertebaran produk-produk baru yang      selalu menjanjikan mutu dan harga yang terjangkau</li>
<li>karena untuk mendapatkan satu pelanggan baru, kita      harus melakukan observasi dari dekat mengenai karakter dan prilaku calon      pelanggan dan ini membutuhkan waktu yang tidak pendek, bisa mencapai dua      minggu sampai dengan satu bulan, bahkan seorang teman di jasa asuransi      untuk mendapatkan satu pelanggan saja sampai memerlukan 14 (empat belas)      bulan… bayangkan…!</li>
<li>Karena ketika kita mendapatkan pelanggan baru, maka      kita harus mengujinya dari sisi pembayaran dan komitmen.</li>
<li>Karena untuk mendapatkan  pelanggan baru membutuhkan biaya yang      besar, lihat saja di televisi. Iklan-iklan yang anda tonton adalah wujud      nyata aktivitas promosi yang bertugas untuk mempengaruhi pikiran dan      tindakan anda. Dari sebuah survey yang saya dapat, seorang calon pelanggan      baru akan terpikir untuk membeli sebuah produk yang dilihat melalui iklan      televisi setelah si calon pelanggan tersebut menonton iklan minimal 13      kali, padahal tahukah anda berapa biaya satu spot penayangan iklan di televisi      yang berdurasi maksimal 30 detik, angkanya mencapai belasan juta rupiah,      bahkan puluhan juta rupiah untuk acara <strong><em>prime time.</em></strong></li>
</ol>
<p><strong><em><span id="more-35"></span><br />
</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Intinya </span>mencari pelanggan baru itu relatif mahal, membutuhkan waktu yang lama dan relatif tidak mudah, maka yang saya lakukan bersama team adalah mencoba untuk mempertahankan pelanggan yang kami miliki dengan langkah-langkah sebagai berikut :</p>
<ol>
<li><strong><em>Kenalilah harapan dari Pelanggan</em></strong>
<ol>
<li>Produk berkualitas</li>
<li>Harga terjangkau</li>
<li>Barang/jasa       tersedia di mana-mana atau terdistribusi dengan baik</li>
<li>Tidak       khawatir membeli produk kita, maka berikanlah jaminan atau garansi       misalnya “bila barang yang dibeli rusak, kami ganti baru atau uang       kembali 100%”</li>
</ol>
</li>
<li><strong><em>Ketahuilah alasan pelanggan membeli</em></strong></li>
</ol>
<p>Pelanggan membeli berdasarkan kebutuhan-kebutuhan yang real dan benar, seperti membeli sepeda motor untuk menghemat ongkos, agar tidak kepanasan dalam angkot, agar tidak repot antri naik bus way, agar hemat BBM natau contoh lain makan gado-gado agar laparnya hilang, maka pelanggan makan gado-gado dari abang-abang yang jualan di dekat kantornya.</p>
<p>b. Irasional</p>
<p>Pelanggan yang membeli produk bukan alasan rasional, namun membeli produk lebih karena gengisi agar dilihat lebih WAH oleh teman-temannya, maka ketika dia membeli sepeda motor iapun membeli yang MOGE alias Motor Gede, terus ikut berkomunitas untuk menunjukkan jati dirinya yang elegan dan Wah… bila makan gado-gadopun yang tidak sekedar menghilangkan rasa lapar, namun juga yang wah… yang harga satu piringnya bisa 4 (empat) kali lipat dari contoh di atas.<strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> 3.  Menangani keluhan pelanggan dengan      cepat</em></strong></p>
<p>Dalam setiap kesempatan training-training yang diadakan oleh komunitas kami Indonesian Entrepreneur Society sering saya mendapat pertanyaan yang serupa misalnya, apa yang bapak lakukan bila pelanggan bapak komplain terhadap layanan team bapak? Jawaban saya ada 2 (dua)</p>
<p><strong><em>1.  Bersyukurlah</em></strong> karena ada       pelanggan anda yang komplain, <strong>mengapa?</strong> Karena pelanggan yang komplain terhadap jasa anda berarti dia peduli       terhadap produk/jasa anda, itu juga sama artinya si pelanggan tersebut       akan membeli ulang dengan jumlah yang lebih besar asal…. (silahkan       dilanjutkan sendiri). Mengapa juga saya begitu yakin akan hal ini, karena       coba anda bayangkan, bila pelanggan tersebut tidak ingin beli lagi kenapa       dia harus repot-repot komplain (bukankah komplain juga memerlukan       energi?), khan dia bisa aja langsung pindah ke produk lain… <strong><em>benar       khan?</em></strong><strong> </strong></p>
<p><strong>2. Tangani komplain dengan cepat</strong>, caranya :</p>
<ul>
<li>dengarkan dengan seksama pelanggan yang sedang komplain</li>
<li>jangan diinterupsi</li>
<li>ucapkan terimakasih dan meminta maaflah (walaupun belum tentu perusahaan anda yang salah)</li>
<li>mulailah menjawab dan menjelaskan dengan nada yang datar namun serius, dan katakan anda akan memperbaikinya</li>
<li>terakhir… berikan souvenir sebelum pelanggan meninggalkan perusahaan anda dan jangan lupa meminta no telepon</li>
<li>paling lambat satu minggu dari pelanggan komplain, teleponlah pelanggan tersebut dan undanglah untuk singgah lagi ke perusahan anda.</li>
</ul>
<p>Berdasarkan pengalaman saya complain yang dapat ditangani dengan cepat akan berdampak sangat positif, misalnya :</p>
<ol>
<li>Pelanggan      makin loyal terhadap produk/jasa kita</li>
<li>Pelanggan akan menceritakan pengalamannya kepada      rekan-rekannya, serta akan memuji cara kita menangani complain.</li>
</ol>
<p>Begitu pula yang akan terjadiu sebaliknya bila complain tidak segera diatasi dengan baik, pelanggan tersebut akan menjadi duta negatif dari perusahaan kita, akan selalu menceritakan keburukan pelayanan produk kita kepada calon pelanggan lain, maka dari itu bila anda dapat mempertahankan pelanggan anda, maka dengan sendirinya anda dapat mempertahankan profit anda bahkan akan meningkatkan profit anda. <strong><br />
Selamat Mencoba dan semoga bermanfaat.</strong></p>
<p>Salam Sukses,<br />
Adi Kriswanto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/bagaimana-mempertahankan-pelanggan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mesin Cetak Uang</title>
		<link>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/mesin-cetak-uang/</link>
		<comments>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/mesin-cetak-uang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 09:28:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Financial / Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[IES]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Money]]></category>
		<category><![CDATA[Wirausaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaswirausaha.net/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Success Entrepreneur
Bambang Suharno
Alkisah puluhan tahun lalu, kegiatan olimpiade adalah proyek bergengsi bagi tuan rumah. Sebagai kegiatan yang mengandung unsur nasionalisme, kegiatan tersebut harus didukung oleh anggaran negara, karena penjualan tiket pertandingan tidaklah mencukupi untuk biaya operasional panitia. Agar supaya banyak pendapatan dari penjualan tiket pertandingan, panitia tidak memperbolehkan stasiun televisi mengadakan siaran langsung pertandingan olimpiade. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Success Entrepreneur</strong><br />
Bambang Suharno</h2>
<p>Alkisah puluhan tahun lalu, kegiatan olimpiade adalah proyek bergengsi bagi tuan rumah. Sebagai kegiatan yang mengandung unsur nasionalisme, kegiatan tersebut harus didukung oleh anggaran negara, karena penjualan tiket pertandingan tidaklah mencukupi untuk biaya operasional panitia. Agar supaya banyak pendapatan dari penjualan tiket pertandingan, panitia tidak memperbolehkan stasiun televisi mengadakan siaran langsung pertandingan olimpiade. Alasannya, kalau pertandingan bisa disiarkan langsung oleh televisi, maka pendapatan panitia dari penjualan tiket akan menurun. Lagi pula kalau sampai pertandingan olimpiade jarang penontonnya, tentu dipandang tidak sukses. Pola pikir seperti ini berlangsung bertahun-tahun.</p>
<p>Barulah beberapa tahun kemudian, pola konvensional ini dirubah di Amerika Serikat. Saat itu panitia justru memperbolehkan sebanyak-banyaknya stasiun televisi mengadakan siaran langsung pertandingan di olimpiade. Dengan demikian jumlah penonton pertandingan bukan hanya di lapangan melainkan ditambah jutaan pemirsa televisi. Dengan cara ini panitia bisa meyakinkan perusahaan-perusahaan besar bahwa kalau mereka menjadi sponsor olimpiade, ada jutaan pasang mata yang melihat produknya, baik langsung maupun melalui televisi. Sejak saat itulah olimpiade dapat mengeruk keuntungan yang besar. Dan ternyata, dengan adanya siaran langsung pertandingan, penonton yang membeli tiket pertandingan tidaklah berkurang sebagaimana dugaan sebelumnya.<br />
<span id="more-31"></span><br />
Kita lihat saat ini, momen pertandingan olah raga tingkat dunia bahkan menjadi rebutan stasiun televisi untuk menyelenggarakan siaran langsung, karena bagi stasiun televisi, momen tersebut dapat meningkatkan pendapatan stasiun tersebut. Sebuah stasiun televisi harus rela membayar miliaran rupiah agar mendapatkan hak eksklusif menyiarkan langsung pertandingan piala dunia sepak bola. Hal ini tentu tak terbayangkan puluhan tahun silam, dimana para penyelenggara pertandingan mengira bahwa siaran langsung televisi akan mengurangi penjualan tiket.</p>
<p>Cerita di atas adalah gambaran tentang perubahan “money making model” yang mampu meningkatkan pendapatan sebuah kegiatan. Dalam melakukan kegiatan bisnis, kita perlu melakukan inovasi bagaimana model “mesin cetak uang” kita. Kita tidak harus memperoleh pendapatan terbesar dari sebuah produk yang paling dikenal pelanggan kita. Coba saja anda cek, apakah seorang pemilik warung ayam bakar memperoleh keuntungan terbesar dari ayam bakar tersebut? Belum tentu. Bisa saja keuntungan terbesar diperoleh dari penjualan nasi atau aneka minuman yang memang marginnya lebih besar dari penjualan ayam bakar .</p>
<p>Dalam bisnis modern, uang tidaklah harus datang dari apa yang dipromosikan. Dalam bisnis media, sangat umum bahwa pendapatan terbesar dari media cetak adalah iklan, bukan dari para pelanggan media cetak tersebut.</p>
<p>Bila anda melihat sebuah supermarket mempromosikan telur ayam dengan harga lebih rendah dibanding harga di grosir, itu hanya suatu cara saja agar banyak orang yang hadir di supermarket tersebut. Yang pasti di sekitar rak telur terpampang produk-produk yang membuat anda mudah tergoda untuk membelinya. Tak usah heran bila seorang ibu berniat membeli beras dan telur di sebuah supermarket, pulangnya yang ia peroleh banyak barang lainnya seperti ember, gelas, peralatan rumah tangga dan lain-lain yang menghasilkan profit lebih besar bagi supermarket tersebut.</p>
<p>Anda pusing dengan persaingan harga antar pelaku bisnis? Bolehlah anda siasati dengan merubah model “mesin cetak uang”. Seorang pendengar radio Elgangga , pemilik warung sembako pernah berhasil mempraktekkan kiat ini untuk bersaing dengan minimarket.</p>
<p>Ketika musim sayuran, ia mempromosikan sayuran tertentu dengan harga sangat murah, bahkan ia berikan gratis sebagai bonus bagi pelanggan yang membeli barang di warung tersebut dengan nilai monimal minimal 50 ribu rupiah. Warung tersebut tidak sepi lagi, gara-gara ia mengemas pola promosi baru yang cukup modern. Ia juga bekerjasama dengan lembaga kursus agar lembaga kursus tersebut memberikan voucher diskon untuk pelanggan warung sembakonya. Ia tidak mampu bersaing dengan harga minimarket tapi ia dapat memberikan nilai lebih kepada pelanggan sehingga pelanggan merasa harga di warungnya lebih murah dibanding di minimarket.</p>
<p>Bila persaingan semakin ketat, sebagaimana yang dikeluhkan sebagian pelaku bisnis saat ini, saran saya mulailah memikirkan untuk merubah model mesin cetak uang. Sebelum tahun 2000an penyelenggara seminar dan training belum bersaing seketat sekarang ini. Mereka cukup mengundang pembicara terkenal, dan pasang iklan di media cetak terkemuka. Dengan cara sederhana ini seminar bisa dipenuhi pengunjung. Sekarang ini tidak cukup dengan hanya melakukan itu. Iklan seminar ada dimana-mana dengan harga yang sangat murah hingga harganya selangit. Akibatnya muncul berbagai inovasi. Beberapa lembaga penyelenggara seminar mulai merubah pola promosinya dengan membuat seminar gratis yang dimaksudkan sebagai preview dari seminar yang sebenarnya. Atau seminar gratis untuk menjual jasa atau barang pendukungnya. Cara ini sekarang mulai banyak dilakukan penyelenggara seminar. Jika persaingan cara ini kelak intensitas persaingannya menjadi makin ketat, maka pasti akan ada kreativitas baru untuk membuat “mesin cetak uang” dari bisnis seminar tersebut.</p>
<p>Anda ahli membuat es cendol ? Bila ingin membuat es cendol yang sangat menguntungkan, anda bisa mempromosikan makanan lain yang seirama dengan es cendol. Misalkan anda berjualan bakso, mie ayam, restoran. Makanan yang anda jual bisa dipromosikan dengan harga murah alis untung tipis atau bahkan impas saja, tapi jangan jual murah es cendol spesial buatan anda yang akan membuat pengunjung ketagihan untuk berulangkali kembali ke warung anda.</p>
<p>Bisnis melalui internet sebagai sebuah teknologi baru, pada awalnya dikira akan menggantikan fungsi media cetak dan merubah pola belanja masyarakat. Dengan asumsi bahwa masyarakat lebih suka menghindari kemacetan, panyak perusahaan melakukan investasi untuk merubah pola penjualan konvensional menjadi penjualan melalui internet. Ternyata tidak semulus dugaan banyak orang. Alhasil banyak perusahaan dotcom berguguran. Kini, sudah mulai ditemukan berbagai model mesin cetak uang melalui internet, seperti bentuk viral marketing dan berbagai bentuk lainnya yang akan terus berkembang.</p>
<p>Bagimana dengan mesin cetak uang bisnis anda?<a href="http://klikpebisnis.blogspot.com/2007/05/mesin-cetak-uang.html"><br />
Mesin Cetak Uang</a></p>
<p>Saran dan pertanyaan hubungi 021.70228877 atau email ke <a href="mailto:bambangsuharno@telkom.net">bambangsuharno@telkom.net</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/mesin-cetak-uang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati Proses menuju Sukses</title>
		<link>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/menikmati-proses-menuju-sukses/</link>
		<comments>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/menikmati-proses-menuju-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 09:14:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspiration / Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Wirausaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaswirausaha.net/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Success Entrepreneur
Bambang Suharno
Donald Trump, pebisnis properti yang sangat terkenal di AS mengatakan, Orang yang menganggap bahwa mencapai sukses adalah proses garis lurus A ke Z, adalah orang yang tidak mengerti kenyataan hidup. Memang ada beberapa kisah tentang orang sukses dalam semalam, namun sebenarnya yang terjadi mungkin diawali proses bertahun-tahun.
Kesuksesan nampak cepat karena kita melihat dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Success Entrepreneur</strong></p>
<p>Bambang Suharno</p>
<p>Donald Trump, <strong>pebisnis</strong> properti yang sangat terkenal di AS mengatakan, Orang yang menganggap bahwa mencapai sukses adalah proses garis lurus A ke Z, adalah orang yang tidak mengerti kenyataan hidup. Memang ada beberapa kisah tentang orang sukses dalam semalam, namun sebenarnya yang terjadi mungkin diawali proses bertahun-tahun.</p>
<p>Kesuksesan nampak cepat karena kita melihat dari media yang mempublikasikan keajaibannya, bukan prosesnya. Sukses tidaklah instan, yang dapat kita upayakan adalah mempercepat proses saja. Sama seperti kita memasak mie instan, meskipun sangat cepat, urut-urutannya sama dengan memasak nasi yang tidak instan. Yang membuat cepat adalah, kita kebagian tugas memasak mie yang sudah dipersiapkan bumbunya. Proses untuk sampai menjadi mie instan itu sendiri tidaklah instan.</p>
<p><span id="more-26"></span></p>
<p>Proses untuk membuat <strong>bisnis</strong> berkembang menjadi besar pada umumnya adalah proses bagaimana pemilik bisnis mengalokasikan keuntungan dari <strong>bisnis</strong>nya untuk mengembangkan <strong>bisnis</strong>, bukan untuk kegiatan konsumtif.</p>
<p>Di sekitar kita, banyak sekali warung yang barangnya laris tapi tak bisa berkembang. Mengapa ini bisa terjadi? Biasanya para pakar mengatakan, faktor utamanya adalah kekurangan modal dan SDM yang lemah. “Tanpa dukungan modal, mereka tidak akan maju,” kata banyak pakar.</p>
<p>Benarkah demikian? Belum tentu. Yang saya lihat di lapangan, stagnasi usaha skala rumah tangga lebih disebabkan karena pola pikir mereka tentang uang. Mereka telah bertahun-tahun menjadi pelaku <strong>bisnis</strong>, namun pola pikirnya tak jauh beda dengan pegawai.</p>
<p>Ingat, orang bermental pegawai adalah mereka yang selalu menggunakan penghasilannya untuk kebutuhan konsumtif. Mereka selalu kekurangan uang berapapun gajinya. Bahkan setiap kenaikan gaji selalu diiringi dengan kenaikan hutang. Konon para eksekutif yang gajinya di atas 20 juta, menggunakan 60% penghasilannya untuk membayar hutang. Celakanya, semua hutang mereka adalah hutang konsumtif seperti mobil, rumah, alat elektronik dan sebagainya.</p>
<p>Pada pedagang yang bermental pegawai juga demikian. Setiap hari mereka mendapatkan keuntungan dari bisnisnya, dan setiap hari pula mereka menghabiskan uangnya untuk kebutuhan rumah tangga. Sewaktu saya kecil, Ibu saya memiliki warung sembako. Sebagian keuntungan usaha dikumpulkan, tapi setelah terkumpul semuanya untuk merenovasi rumah. Akibatnya usaha warung itu bertahun-tahun tak juga berkembang. Usaha itu baru terlihat berkembang ketika sebagian keuntungan digunakan untuk usaha yang baru di bidang pertanian.</p>
<p>Ada pula yang mengatakan bahwa usaha mikro tidak dapat maju karena penghasilannya kecil sehingga tidak dapat menyisihkan keuntungannya untuk pengembangan. Menurut saya ini kurang tepat. Kenyataan menunjukkan bahwa orang-orang yang mampu mengembangkan bisnis umumnya selalu berupa menghemat pengeluaran meskipun penghasilannya masih pas-pasan. Mereka rela menunda kesenangan bahwa menghemat biaya makan dan pakaian demi mengusahakan pengembangan bisnis. Mereka lebih suka menyisihkan keuntungannya untuk merekrut tenaga baru atau membuka cabang baru daripada untuk membeli kendaraan baru atau baju mahal atau rumah baru.</p>
<p>Kadang ada orang yang usil bertanya begini,” kalau kita menunda menikmati hasil usaha kita, kapan kita menikmati jerih payah kita?” . Pertama kita harus menyadari bahwa kita harus mampu menikmati liku-liku perjalanan sebelum sampai ke tujuan. Bila kita tidak mampu menikmati proses, percayalah kita akan menjadi tidak sabar dan bisa stress akibat banyaknya hambatan di tengah jalan. Ketidaksabaran itu justru pangkal dari kegagalan. Jadi, nikmatilah hidup ini selagi kita dalam keadaan berjuang keras. Kelak kemudian hari anda akan dapat mengisahkan perjalanan hidup anda yang luar biasa itu kepada anak cucu dan sahabat anda dengan bangga.</p>
<p>Pada umumnya jika kita mencapai kesuksesan tertentu, kita segera ingat dan terkenang dengan masa-masa sulit. Kita menjadi sadar bahwa proses kesulitan itu sendiri menjadi indah karena telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang dramatis. Tentunya, daripada kita hanya mengenang masa sulit, akan lebih baik bila kita sudah mampu menikmati proses di dalam kesulitan itu sendiri. Seperti tubuh yang sehat karena olah raga hingga nafas kita ngos-ngosan, begitupun dengan kesehatan bisnis anda. Ia bisa sehat karena sering menghadapi banyak tantangan.</p>
<p>Dunia memang bergerak dengan cepat sehingga kita kerap kali tidak sabar ketika segala sesuatu berjalan sangat lambat, apakah itu antrian di SPBU atau akses internet. Kita kadang menjadi tidak toleran terhadap hal-hal yang tidak dapat dipercepat atau dilewati. Padahal setelah kita sabar menikmati proses antrian, di depan sana kita akan mendapat sesuatu yang menyenangkan.</p>
<p>Bila anda saat ini tengah mengalami kesulitan dalam <strong>bisnis</strong>, nikmatilah, sambil terus berusaha mengembangkan <strong>bisnis</strong>. Biasakanlah menyisihkan laba <strong>bisnis</strong> anda untuk mengembangkan bisnis.</p>
<p>Selamat menikmati proses<a href="http://klikpebisnis.blogspot.com/2007/05/menikmati-proses-menuju-sukses.html"><br />
Menikmati Proses Menuju Sukses</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/menikmati-proses-menuju-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
