<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>INDONESIAN ENTREPRENEUR SOCIETY (IES) &#187; Financial / Keuangan</title>
	<atom:link href="http://komunitaswirausaha.net/category/financial-keuangan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://komunitaswirausaha.net</link>
	<description>Wadah Perubahan dan Pembelajaran Wirausaha</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 04:20:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Memahami “The Cashflow Quadrant” karya  Robert Kiyosaki</title>
		<link>http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/</link>
		<comments>http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 09:11:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Komunitas Wirausaha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Financial / Keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/</guid>
		<description><![CDATA[Bambang Suharno Robert T Kiyosaki adalah penulis buku Rich Dad Poor Dad, dan The Cash Flow Quadrant yang menjadi best seller di seluruh dunia. Karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan menjadi panduan penting bagi masyarakat yang ingin menjadi pengusaha &#8230; <a href="http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bambang Suharno</p>
<p>Robert T Kiyosaki adalah  penulis buku Rich Dad Poor Dad, dan The Cash Flow Quadrant yang menjadi best seller di seluruh dunia. Karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan menjadi panduan penting bagi masyarakat yang ingin menjadi pengusaha dan investor.</p>
<p>“Banyak orang bergumul dengan kesulitan finansial, yang sebenarnya disebabkan mereka bertahun-tahun sekolah tapi tidak belajar apapun tentang uang. Hasilnya, orang bekerja untuk mendapatkan uang, dan tak pernah belajar bagaimana memiliki uang yang bekerja untuk mereka,”demikian ujar Robert dalam buku Rich Dad Poor Dad.</p>
<p>Robert adalah generasi keempat keturunan Amerika Jepang, yang lahir di besarkan di Hawaii. Ia berasal dari keluarga pendidik yang terkenal. Ayahnya seorang kepala Pendidikan  untuk negara bagian Hawaii. Selepas SMU, Robert melanjutkan pendidikannya di New York dan setelah lulus, ia bergabung dengan US marine Corp dan pergi ke Vietnam sebagai perwira dan pilot helikopter yang bersenjata. Sekembalinya dari perang, karier bisnis Robert dimulai. Tahun 1977 dia mendirikan sebuah perusahaan yang memproduksi dompet surfer dari velcro dan nilon yang pertama ada di pasaran, dan berkembang menjadi bisnis yang menghasilkan jutaan dollar.</p>
<p>Tahun 1985 ia mendirikan sebuah perusahaan pendidikan internasional yang beroperasi di tujuh negara, mengajarkan bisnis dan investasi kepada puluhan ribu orang.</p>
<p>Pada umur 47 tahun Robert melakukan sesuatu yang paling ia sukai, berinvestasi. Bisnis Robert adalah real estate dan mengembangkan perusahaan-perusahaan kecil. Namun gairah sejatinya adalah mengajar. Dia diakui sebagai pembicara hebat tentang pendidikan finansial dan tren ekonomi. Karyanya telah mengubah dan memberi inspirasi kepada jutaan orang di seluruh dunia.</p>
<p>Pesan Rober sangat jelas,”bertanggungjawablah atas keuangan anda atau hanya menerima nasib sepanjang hidup anda. Anda menjadi tuan atas uang atau budak uang. Terserah anda memilihnya.”</p>
<p>Berulang kali, dalam ceramah maupun dalam bukunya, Robert selalu mengajarkan agar kita jangan bekerja untuk mencari uang, tapi berusahalah agar uang bekerja untuk kita. Bukunya yang berjudul Rich Dad Poor Dad maupun The Cashflow Quadrant dengan penuh semangat dan dengan cara yang mudah dipahami, ia mengajarkan bermacam kiat agar kita menjadi kaya, dalam arti uang bekerja untuk kita, bukan kita bekerja untuk uang. </p>
<p>Casflow Quadrant</p>
<p>Karya Robert yang paling dikenal adalah membagi kategori hidup orang berdasarkan sumber penghasilan ke dalam 4 kuadran, yakni kuadran I E (employee/pegawai), Kuadran II S (Self Employed/pekerja lepas), Kuadran III B (business Owner/pemilik usaha), dan kuadran IV I (Investor/penanam modal).</p>
<p>Robert mengatakan, kebanyakan dari kita berpotensi memperoleh penghasilan dari keempat kuadran. Contoh kasus seorang dokter yang bekerja di sebuah rumah sakit dengan jabatan direktur, memiliki klinik spesialis anak, dan punya usaha perkebunan. Sebagai direktur rumah sakit, sang dokter ada di kuadran I (E), namun sebagai seorang ahli penyakit anak, ia bertindak sebagai self employed (S). Ia juga memiliki usaha perkebunan, yang berarti seorang business owner (B). Bisa jadi dokter itu juga melakukan investasi di sektor properti atau yang lainnya yang berarti masuk ketagori kuadran IV.</p>
<p>Nah sang dokter adalah orang yang lengkap hidupnya karena mengalami hidup dalam  kuadran I-IV.</p>
<p>Pesan-Pesan Ayah kaya</p>
<p>Jadi sebenarnya kita diberi ajaran 4 kuadran, untuk memilih salah satu atau bisa juga semuanya. Robert memang menganggap kuadran E sebagai yang paling miskin, dan Investor menjadi paling kaya.</p>
<p>Dalam bukunya yang terkenal itu Robert menggambarkan dirinya sebagai seorang yang lahir dari keluarga pegawai yang menghendaki Robert supaya belajar tekun bekerja di perusahaan atau pemerintah dan mendapat gaji baik dan sejumlah tunjangan dan uang pensiun. Sementara ia mengenal seorang teman yang sangat dekat dan ayahnya seorang kaya raya dan dermawan.</p>
<p>Ayah kaya (Rich Dad) itulah yang menarik perhatian Robert, hingga ia bisa belajar bagaimana mendapatkan kekayaan dengan cara yang cerdas. Dalam uraiannya, ayah kaya adalah seorang investor yang mengajarkan kepada Robert bagaimana menjadikan uang bekerja untuk robert.</p>
<p>Robert akhirnya memang benar-benar berhasil menjadi seorang yang kaya dengan menjadi investor.</p>
<p>Buku Ricd Dad maupun The Cashflow Quadrant menjanjikan kepada pembaca bahwa untuk menjadi kaya, seorang harus pindah dari kuadran kiri yakni seorang E dan S menjadi B atau I.</p>
<p>Seorang pekerja adalah seorang yang sangat tergantung kepada perusahaan. Hidupnya kelihatan enak, tapi sesungguhnya sangat beresiko. Seorang S bisa bekerja sendiri, masalahnya ia akan sangat tergantung kepada keahliannya.</p>
<p>Contohnya seorang dokter buka praktek. Ia bekerja siang malam melayani pasien karena banyaknya pasien di wilayahnya. Ia sangat terkenal di seluruh kota. Masalahnya ketika ia berlibur ia tidak bisa mendapatkan apa-apa.</p>
<p>Sementara jika kita hidup di kuadran kanan, baik sebagai pemilik bisnis maupun investor, ia bisa meninggalkan kantor dengan enak karena sistem bisnis berjalan dengan sendirinya.</p>
<p>Seorang E bekerja, seorang S memiliki pekerjaan sendiri, seorang B memiliki sistem dan orang-orang yang bekerja, dan seorang I menjadikan uang bekerja untuk dirinya. </p>
<p>Dalam sebuah perkembangan negara  jumlah orang yang hidup di kuadran I-IV  jumlahnya harus seimbang sehingga semua orang bisa hidup, baik sebagai pekerja, profesional, pemilik bisnis maupun investor.</p>
<p>Di Indonesia, kebanyakan orang mau hidup di kuadran I, sementara di kuadran III dan IV sangat sedikit, itulah sebabnya pengangguran ada dimana mana. Berbahagialah anda yang kini sudah hidup di kuadran III (sebagai business owner) dan IV (sebagai investor).</p>
<div style="height:66px;" class="really_simple_share robots-nocontent snap_nopreview"><div class="really_simple_share_facebook_like" style="width:100px;">
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fkomunitaswirausaha.net%2F2010%2F04%2Fmemahami-%25e2%2580%259cthe-cashflow-quadrant%25e2%2580%259d-karya-robert-kiyosaki%2F&amp;layout=box_count&amp;show_faces=false&amp;width=&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;send=false&amp;height=60" 
						scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:px; height:60px;" allowTransparency="true"></iframe>
				</div>
					<div style="float:left; width:50px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_facebook_like_send">
					<fb:send href="http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/" font=""></fb:send>
					</div><div class="really_simple_share_google1" style="width:90px;">
					<g:plusone size="tall" href="http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/" count="false"></g:plusone>
				</div><div class="really_simple_share_linkedin" style="width:100px;">
					<script type="IN/Share"  data-url="http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/"></script>
				</div><div class="really_simple_share_buzz" style="width:100px;">
					<a title="Post to Google Buzz" class="google-buzz-button" href="http://www.google.com/buzz/post" data-button-style="normal-count" 
						data-url="http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/"></a>
				</div><div class="really_simple_share_digg" style="width:100px;">
					<script type="text/javascript" src="http://widgets.digg.com/buttons.js"></script>
					<a class="DiggThisButton DiggMedium" href="http://digg.com/submit?url=http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/&amp;title=Memahami &acirc;The Cashflow Quadrant&acirc; karya  Robert Kiyosaki"></a>	
				</div><div class="really_simple_share_stumbleupon" style="width:100px;">
					<script type="text/javascript" src="http://www.stumbleupon.com/hostedbadge.php?s=5&amp;r=http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/"></script>
				</div><div class="really_simple_share_email" style="width:100px;">
					<a href="mailto:?subject=Memahami “The Cashflow Quadrant” karya  Robert Kiyosaki&amp;body=Memahami “The Cashflow Quadrant” karya  Robert Kiyosaki - http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/"><img src="http://komunitaswirausaha.net/wp-content/plugins/really-simple-facebook-twitter-share-buttons/email.png" alt="Email" title="Email" /> </a> 
				</div><div class="really_simple_share_facebook" style="width:100px;">
					<a name="fb_share" type="box_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php" share_url="komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/">Share</a> 
				</div><div class="really_simple_share_twitter" style="width:110px;">
					<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" 
						data-text="Memahami “The Cashflow Quadrant” karya  Robert Kiyosaki" data-url="http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/" 
						data-via="" ></a> 
				</div></div>
		<div style="clear:both;"></div><div class="al2fb_like_button"><div id="fb-root"></div><script src="http://connect.facebook.net/en_US/all.js#appId=202165759812555&amp;xfbml=1" type="text/javascript"></script>
<fb:like href="http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" font="tahoma" colorscheme="light" ref="AL2FB"></fb:like></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaswirausaha.net/2010/04/memahami-%e2%80%9cthe-cashflow-quadrant%e2%80%9d-karya-robert-kiyosaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemanakah Uang Mengalir?</title>
		<link>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/kemanakah-uang-mengalir/</link>
		<comments>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/kemanakah-uang-mengalir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 04:18:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bambang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Financial / Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Bambang Suharno]]></category>
		<category><![CDATA[Comunity / Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[Money]]></category>
		<category><![CDATA[Wirausaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaswirausaha.net/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Bambang Suharno Ya, kemanakah uang mengalir? Tepatnya, kemanakah uang “halal” mengalir? Pertanyaan ini barangkali sering anda lupakan. Kita yang bergulat dengan kewirausahaan terus menerus belajar, membaca buku, mendengarkan radio, ikut training, seminar, pameran dimana sebagian besar tujuannya untuk menambah penghasilan. &#8230; <a href="http://komunitaswirausaha.net/2009/10/kemanakah-uang-mengalir/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bambang Suharno</p>
<p>Ya, kemanakah uang mengalir? Tepatnya, kemanakah uang “halal” mengalir? Pertanyaan ini barangkali sering anda lupakan. Kita yang bergulat dengan kewirausahaan terus menerus belajar, membaca buku, mendengarkan radio, ikut training, seminar, pameran dimana sebagian besar tujuannya untuk menambah penghasilan. Penghasilan adalah aliran rejeki, dan sebagian rejeki berupa uang.</p>
<p>Maka, sebelum belajar lebih jauh mengenai kiat sukses mendapatkan kekayaan, mendapatkan passive income atau apapun namanya, kita perlu terlebih dahulu memahami dari mana dan kemana uang mengalir. Dengan pemahaman ini kita akan lebih mudah mengelola kiat meningkatkan penghasilan. Berikut pendapat saya mengenai aliran uang.</p>
<p>Pertama, uang halal mengalir kepada mereka yang selalu berusaha mengalirkan uang ke orang yang membutuhkan. Pernahkah anda menemukan pengusaha bangkrut karena bersedekah? Saya percaya tidak ada. Mental entrepreneur hakekatnya adalah mental “tangan di atas” alias mental memberi. Dalam keseharian mental ini terlihat dari cara-cara mengelola uang. Mereka yang bermental “tangan di bawah” sering bangga apabila mendapat sesuatu secara gratis. Mereka bangga jika ditraktir makan, bangga dikasih kaos gratis, bangga diberi hadiah, bantuan atau apapun yang gratis. Sebaliknya mental entrepreneur akan merasa bangga bila sudah mentraktir makan, memberi sumbangan, memberi hadiah.</p>
<p><span id="more-42"></span>Orang-orang yang selalu berusaha memberi akan mencari cara supaya dapat terus memberi. Alhasil secara logis, anda yang suka memberi akan selalu berusaha memiliki, dan dampaknya tentu saja akan dialiri rejeki yang tak terbatas. Maka, sedekahlah. Jangan tunggu kaya baru sedekah. Justru karena masih susah mendapatkan uang, mulailah menyisihkan uang untuk diberikan ke orang lain. Niscaya kelak akan banyak uang mengalir ke kantong anda. Teruslah perbanyak sedekah, rejeki akan terus mengalir. Begitu kita bersedekah, mental kita berubah menjadi ”tangan di atas”, dan pada saat yang sama kita menjadi bermental kaya.</p>
<p>Kedua, uang mengalir kepada para pencipta atau kreator. Anda yang pandai menciptakan sesuatu, akan lebih mudah mendapatkan uang. Menciptakan yang dimaksud bukan selalu yang tampak canggih seperti mesin mobil hemat energi, mobil berbahan bakar air atau lainnya, tapi juga menciptakan sistem dalam bisnis, menciptakan standar tertentu, program komputer tertentu, menulis buku dan sebagainya. Pencipta akan selalu dikenang sebagai pemenang. Dalam bisnis, kita boleh meniru pada awalnya, sedangkan untuk berkembang perlu melakukan inovasi.</p>
<p>Ketiga, uang mengalir kepada yang menciptakan nilai tambah. Jika anda punya warung makan bersebelahan dengan warung makan lain yang lebih laris, anda wajib melihat nilai tambah yang dia miliki. Begitu anda memiliki nilai tambah dibanding warung lain, anda akan tenang karena rejeki akan mengalir ke kantong anda.</p>
<p>Keempat, uang mengalir kepada yang pintar meningkatkan produktivitas uang. Saya menyebutnya mental entrepreneur, yakni mental mengeluarkan uang untuk menjadi uang yang lebih banyak. Robert T Kiyosaki memperkenalkan istilah ”uang bekerja untuk kita” bukan kita bekerja untuk uang. Pesan saya, jika rekening anda ada tambahan uang, mulailah berpikir kemana uang tersebut akan dialirkan. Sebagian untuk sedekah, sebagian untuk pengembangan usaha, sebagian untuk investasi, sebagian lagi untuk keperluan konsumtif. Sebagian dari kita, jika mendapatkan uang langsung berpikir yang konsumtif seperti membeli mobil baru, motor baru dan hal-hal lain yang justru menimbulkan pengeluaran baru.</p>
<p>Beberapa waktu lalu saya pergi ke daerah pemukiman transmigrasi di Lampung. Mereka mulai menghuni di sana sejak tahun 1983, dimana pemerintah menyediakan 2 Ha lahan dan biaya hidup untuk 1,5 tahun. Apa yang terjadi 20 tahun kemudian? Ternyata kepemilikan lahan sudah berubah total. Ada yang sudah memiliki 10 Ha, ada juga yang lahannya dijual dan dia sebagai petani penggarap. Hal ini terjadi karena sebagian ada yang produktif mengelola uang, sebagian lagi lebih memilih menjual tanah untuk memperbaiki rumah atau beli kendaraan, dimana dalam beberapa tahun kemudian mereka mengalami kesulitan pendapatan.</p>
<p>Perhatikanlah, uang tidak berhenti bergerak. Ia terus mengalir dari satu tempat ke tempat lain. Entrepreneur bukanlah yang menumpuk uang, melainkan mengalirkan uang. Jika anda punya restoran, anda bekerja dengan cara membeli bahan baku, mengolah menjadi masakan, lantas masakan dijual, beli bahan baku lagi, dan begitu seterusnya, dimana jika aliran lancar maka aliran uang akan semakin besar.</p>
<p>Maka pahamilah kemana uang mengalir.</p>
<p>Salam sukses ***</p>
<p>Email bambangsuharno@telkom.net<br />
Telp. 021.70228877</p>
<div style="height:66px;" class="really_simple_share robots-nocontent snap_nopreview"><div class="really_simple_share_facebook_like" style="width:100px;">
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fkomunitaswirausaha.net%2F2009%2F10%2Fkemanakah-uang-mengalir%2F&amp;layout=box_count&amp;show_faces=false&amp;width=&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;send=false&amp;height=60" 
						scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:px; height:60px;" allowTransparency="true"></iframe>
				</div>
					<div style="float:left; width:50px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_facebook_like_send">
					<fb:send href="http://komunitaswirausaha.net/2009/10/kemanakah-uang-mengalir/" font=""></fb:send>
					</div><div class="really_simple_share_google1" style="width:90px;">
					<g:plusone size="tall" href="http://komunitaswirausaha.net/2009/10/kemanakah-uang-mengalir/" count="false"></g:plusone>
				</div><div class="really_simple_share_linkedin" style="width:100px;">
					<script type="IN/Share"  data-url="http://komunitaswirausaha.net/2009/10/kemanakah-uang-mengalir/"></script>
				</div><div class="really_simple_share_buzz" style="width:100px;">
					<a title="Post to Google Buzz" class="google-buzz-button" href="http://www.google.com/buzz/post" data-button-style="normal-count" 
						data-url="http://komunitaswirausaha.net/2009/10/kemanakah-uang-mengalir/"></a>
				</div><div class="really_simple_share_digg" style="width:100px;">
					<script type="text/javascript" src="http://widgets.digg.com/buttons.js"></script>
					<a class="DiggThisButton DiggMedium" href="http://digg.com/submit?url=http://komunitaswirausaha.net/2009/10/kemanakah-uang-mengalir/&amp;title=Kemanakah Uang Mengalir?"></a>	
				</div><div class="really_simple_share_stumbleupon" style="width:100px;">
					<script type="text/javascript" src="http://www.stumbleupon.com/hostedbadge.php?s=5&amp;r=http://komunitaswirausaha.net/2009/10/kemanakah-uang-mengalir/"></script>
				</div><div class="really_simple_share_email" style="width:100px;">
					<a href="mailto:?subject=Kemanakah Uang Mengalir?&amp;body=Kemanakah Uang Mengalir? - http://komunitaswirausaha.net/2009/10/kemanakah-uang-mengalir/"><img src="http://komunitaswirausaha.net/wp-content/plugins/really-simple-facebook-twitter-share-buttons/email.png" alt="Email" title="Email" /> </a> 
				</div><div class="really_simple_share_facebook" style="width:100px;">
					<a name="fb_share" type="box_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php" share_url="komunitaswirausaha.net/2009/10/kemanakah-uang-mengalir/">Share</a> 
				</div><div class="really_simple_share_twitter" style="width:110px;">
					<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" 
						data-text="Kemanakah Uang Mengalir?" data-url="http://komunitaswirausaha.net/2009/10/kemanakah-uang-mengalir/" 
						data-via="" ></a> 
				</div></div>
		<div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/kemanakah-uang-mengalir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mesin Cetak Uang</title>
		<link>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/mesin-cetak-uang/</link>
		<comments>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/mesin-cetak-uang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 09:28:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Financial / Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[IES]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Money]]></category>
		<category><![CDATA[Wirausaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunitaswirausaha.net/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Success Entrepreneur Bambang Suharno Alkisah puluhan tahun lalu, kegiatan olimpiade adalah proyek bergengsi bagi tuan rumah. Sebagai kegiatan yang mengandung unsur nasionalisme, kegiatan tersebut harus didukung oleh anggaran negara, karena penjualan tiket pertandingan tidaklah mencukupi untuk biaya operasional panitia. Agar &#8230; <a href="http://komunitaswirausaha.net/2009/10/mesin-cetak-uang/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Success Entrepreneur</strong><br />
Bambang Suharno</h2>
<p>Alkisah puluhan tahun lalu, kegiatan olimpiade adalah proyek bergengsi bagi tuan rumah. Sebagai kegiatan yang mengandung unsur nasionalisme, kegiatan tersebut harus didukung oleh anggaran negara, karena penjualan tiket pertandingan tidaklah mencukupi untuk biaya operasional panitia. Agar supaya banyak pendapatan dari penjualan tiket pertandingan, panitia tidak memperbolehkan stasiun televisi mengadakan siaran langsung pertandingan olimpiade. Alasannya, kalau pertandingan bisa disiarkan langsung oleh televisi, maka pendapatan panitia dari penjualan tiket akan menurun. Lagi pula kalau sampai pertandingan olimpiade jarang penontonnya, tentu dipandang tidak sukses. Pola pikir seperti ini berlangsung bertahun-tahun.</p>
<p>Barulah beberapa tahun kemudian, pola konvensional ini dirubah di Amerika Serikat. Saat itu panitia justru memperbolehkan sebanyak-banyaknya stasiun televisi mengadakan siaran langsung pertandingan di olimpiade. Dengan demikian jumlah penonton pertandingan bukan hanya di lapangan melainkan ditambah jutaan pemirsa televisi. Dengan cara ini panitia bisa meyakinkan perusahaan-perusahaan besar bahwa kalau mereka menjadi sponsor olimpiade, ada jutaan pasang mata yang melihat produknya, baik langsung maupun melalui televisi. Sejak saat itulah olimpiade dapat mengeruk keuntungan yang besar. Dan ternyata, dengan adanya siaran langsung pertandingan, penonton yang membeli tiket pertandingan tidaklah berkurang sebagaimana dugaan sebelumnya.<br />
<span id="more-31"></span><br />
Kita lihat saat ini, momen pertandingan olah raga tingkat dunia bahkan menjadi rebutan stasiun televisi untuk menyelenggarakan siaran langsung, karena bagi stasiun televisi, momen tersebut dapat meningkatkan pendapatan stasiun tersebut. Sebuah stasiun televisi harus rela membayar miliaran rupiah agar mendapatkan hak eksklusif menyiarkan langsung pertandingan piala dunia sepak bola. Hal ini tentu tak terbayangkan puluhan tahun silam, dimana para penyelenggara pertandingan mengira bahwa siaran langsung televisi akan mengurangi penjualan tiket.</p>
<p>Cerita di atas adalah gambaran tentang perubahan “money making model” yang mampu meningkatkan pendapatan sebuah kegiatan. Dalam melakukan kegiatan bisnis, kita perlu melakukan inovasi bagaimana model “mesin cetak uang” kita. Kita tidak harus memperoleh pendapatan terbesar dari sebuah produk yang paling dikenal pelanggan kita. Coba saja anda cek, apakah seorang pemilik warung ayam bakar memperoleh keuntungan terbesar dari ayam bakar tersebut? Belum tentu. Bisa saja keuntungan terbesar diperoleh dari penjualan nasi atau aneka minuman yang memang marginnya lebih besar dari penjualan ayam bakar .</p>
<p>Dalam bisnis modern, uang tidaklah harus datang dari apa yang dipromosikan. Dalam bisnis media, sangat umum bahwa pendapatan terbesar dari media cetak adalah iklan, bukan dari para pelanggan media cetak tersebut.</p>
<p>Bila anda melihat sebuah supermarket mempromosikan telur ayam dengan harga lebih rendah dibanding harga di grosir, itu hanya suatu cara saja agar banyak orang yang hadir di supermarket tersebut. Yang pasti di sekitar rak telur terpampang produk-produk yang membuat anda mudah tergoda untuk membelinya. Tak usah heran bila seorang ibu berniat membeli beras dan telur di sebuah supermarket, pulangnya yang ia peroleh banyak barang lainnya seperti ember, gelas, peralatan rumah tangga dan lain-lain yang menghasilkan profit lebih besar bagi supermarket tersebut.</p>
<p>Anda pusing dengan persaingan harga antar pelaku bisnis? Bolehlah anda siasati dengan merubah model “mesin cetak uang”. Seorang pendengar radio Elgangga , pemilik warung sembako pernah berhasil mempraktekkan kiat ini untuk bersaing dengan minimarket.</p>
<p>Ketika musim sayuran, ia mempromosikan sayuran tertentu dengan harga sangat murah, bahkan ia berikan gratis sebagai bonus bagi pelanggan yang membeli barang di warung tersebut dengan nilai monimal minimal 50 ribu rupiah. Warung tersebut tidak sepi lagi, gara-gara ia mengemas pola promosi baru yang cukup modern. Ia juga bekerjasama dengan lembaga kursus agar lembaga kursus tersebut memberikan voucher diskon untuk pelanggan warung sembakonya. Ia tidak mampu bersaing dengan harga minimarket tapi ia dapat memberikan nilai lebih kepada pelanggan sehingga pelanggan merasa harga di warungnya lebih murah dibanding di minimarket.</p>
<p>Bila persaingan semakin ketat, sebagaimana yang dikeluhkan sebagian pelaku bisnis saat ini, saran saya mulailah memikirkan untuk merubah model mesin cetak uang. Sebelum tahun 2000an penyelenggara seminar dan training belum bersaing seketat sekarang ini. Mereka cukup mengundang pembicara terkenal, dan pasang iklan di media cetak terkemuka. Dengan cara sederhana ini seminar bisa dipenuhi pengunjung. Sekarang ini tidak cukup dengan hanya melakukan itu. Iklan seminar ada dimana-mana dengan harga yang sangat murah hingga harganya selangit. Akibatnya muncul berbagai inovasi. Beberapa lembaga penyelenggara seminar mulai merubah pola promosinya dengan membuat seminar gratis yang dimaksudkan sebagai preview dari seminar yang sebenarnya. Atau seminar gratis untuk menjual jasa atau barang pendukungnya. Cara ini sekarang mulai banyak dilakukan penyelenggara seminar. Jika persaingan cara ini kelak intensitas persaingannya menjadi makin ketat, maka pasti akan ada kreativitas baru untuk membuat “mesin cetak uang” dari bisnis seminar tersebut.</p>
<p>Anda ahli membuat es cendol ? Bila ingin membuat es cendol yang sangat menguntungkan, anda bisa mempromosikan makanan lain yang seirama dengan es cendol. Misalkan anda berjualan bakso, mie ayam, restoran. Makanan yang anda jual bisa dipromosikan dengan harga murah alis untung tipis atau bahkan impas saja, tapi jangan jual murah es cendol spesial buatan anda yang akan membuat pengunjung ketagihan untuk berulangkali kembali ke warung anda.</p>
<p>Bisnis melalui internet sebagai sebuah teknologi baru, pada awalnya dikira akan menggantikan fungsi media cetak dan merubah pola belanja masyarakat. Dengan asumsi bahwa masyarakat lebih suka menghindari kemacetan, panyak perusahaan melakukan investasi untuk merubah pola penjualan konvensional menjadi penjualan melalui internet. Ternyata tidak semulus dugaan banyak orang. Alhasil banyak perusahaan dotcom berguguran. Kini, sudah mulai ditemukan berbagai model mesin cetak uang melalui internet, seperti bentuk viral marketing dan berbagai bentuk lainnya yang akan terus berkembang.</p>
<p>Bagimana dengan mesin cetak uang bisnis anda?<a href="http://klikpebisnis.blogspot.com/2007/05/mesin-cetak-uang.html"><br />
Mesin Cetak Uang</a></p>
<p>Saran dan pertanyaan hubungi 021.70228877 atau email ke <a href="mailto:bambangsuharno@telkom.net">bambangsuharno@telkom.net</a></p>
<div style="height:66px;" class="really_simple_share robots-nocontent snap_nopreview"><div class="really_simple_share_facebook_like" style="width:100px;">
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fkomunitaswirausaha.net%2F2009%2F10%2Fmesin-cetak-uang%2F&amp;layout=box_count&amp;show_faces=false&amp;width=&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;send=false&amp;height=60" 
						scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:px; height:60px;" allowTransparency="true"></iframe>
				</div>
					<div style="float:left; width:50px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_facebook_like_send">
					<fb:send href="http://komunitaswirausaha.net/2009/10/mesin-cetak-uang/" font=""></fb:send>
					</div><div class="really_simple_share_google1" style="width:90px;">
					<g:plusone size="tall" href="http://komunitaswirausaha.net/2009/10/mesin-cetak-uang/" count="false"></g:plusone>
				</div><div class="really_simple_share_linkedin" style="width:100px;">
					<script type="IN/Share"  data-url="http://komunitaswirausaha.net/2009/10/mesin-cetak-uang/"></script>
				</div><div class="really_simple_share_buzz" style="width:100px;">
					<a title="Post to Google Buzz" class="google-buzz-button" href="http://www.google.com/buzz/post" data-button-style="normal-count" 
						data-url="http://komunitaswirausaha.net/2009/10/mesin-cetak-uang/"></a>
				</div><div class="really_simple_share_digg" style="width:100px;">
					<script type="text/javascript" src="http://widgets.digg.com/buttons.js"></script>
					<a class="DiggThisButton DiggMedium" href="http://digg.com/submit?url=http://komunitaswirausaha.net/2009/10/mesin-cetak-uang/&amp;title=Mesin Cetak Uang"></a>	
				</div><div class="really_simple_share_stumbleupon" style="width:100px;">
					<script type="text/javascript" src="http://www.stumbleupon.com/hostedbadge.php?s=5&amp;r=http://komunitaswirausaha.net/2009/10/mesin-cetak-uang/"></script>
				</div><div class="really_simple_share_email" style="width:100px;">
					<a href="mailto:?subject=Mesin Cetak Uang&amp;body=Mesin Cetak Uang - http://komunitaswirausaha.net/2009/10/mesin-cetak-uang/"><img src="http://komunitaswirausaha.net/wp-content/plugins/really-simple-facebook-twitter-share-buttons/email.png" alt="Email" title="Email" /> </a> 
				</div><div class="really_simple_share_facebook" style="width:100px;">
					<a name="fb_share" type="box_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php" share_url="komunitaswirausaha.net/2009/10/mesin-cetak-uang/">Share</a> 
				</div><div class="really_simple_share_twitter" style="width:110px;">
					<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="none" 
						data-text="Mesin Cetak Uang" data-url="http://komunitaswirausaha.net/2009/10/mesin-cetak-uang/" 
						data-via="" ></a> 
				</div></div>
		<div style="clear:both;"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunitaswirausaha.net/2009/10/mesin-cetak-uang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

