Ingin di-PHK Untuk Cari Modal

Oleh: Bambang Suharno

Alkisah ada seorang eksekutif sedang bosan bekerja. Ia ingin menjadi entrepreneur, tapi untuk mendapat modal yang cukup ia ingin diPHK. “Saya sudah bosan bekerja, jadi biarlah perusahaan memecat saya, nanti pesangon akan saya gunakan untuk modal bisnis saya” demikian ia selalu berbicara kepada teman-temannya.

Temannya itu bertanya, apakah tindakan ini bisa dipertanggungjawabkan untuk mengawali keberanian berwirausaha? Sungguh ini pertanyaan menarik. Saya menduga tidak sedikit karyawan mapan yang berpikir seperti itu. Mereka merasa mendirikan bisnis sendiri itu lebih gampang daripada menjadi karyawan perusahan besar. Kalau sudah ada ide bisnis, bolehlah bermalas-malasan, nanti kalau dipecat tinggal minta pesangon dan mulai berwirausaha.

Terus terang, saya tidak yakin karyawan yang punya pesangon besar ini benar-benar mau dan mampu menjadi entrepreneur. Karena sejak awal dia sudah memiliki niat tidak baik terhadap perusahaan tempat dia bekerja.

Dengarkan saja alasan kelompok orang ini,” saya sih pinginnya punya bisnis, tetapi modal kagak punya”. Padahal gajinya berkali lipat dari yang namanya Upah Minimun Regional (UMR), plus sejumlah fasilitas seperti kendaraan, asuransi dan sebagainya.

Orang-orang di kelompok ini selalu punya kata-kata “belum punya modal” biarpun gajinya puluhan juta rupiah. Tatkala gajinya masih Rp 1 juta, ia berpikir kelak jika gaji sudah Rp 2 juta sudah lumayan. Tapi ketika benar-benar bergaji Rp 2 juta, pikirannya adalah memiliki sepeda motor, handphone terbaru ataupun pesawat televisi dengan cara kredit. Alhasil gajinya ludes buat membayar cicilan hutang.

Dikala  gajinya meningkat lagi, pengeluarannya terus mengimbanginya, sehingga tak ada uang yang tersisa untuk investasi.

Secara umum, sebenarnya manusia memiliki tiga kebutuhan utama dalam hidup, yakni kebutuhan pokok (berupa sandang, pangan, papan), kebutuhan proteksi dan kebutuhan investasi. Kebutuhan investasi inilah yang kerapkali tidak disadari urgensinya.

Kebutuhan akan investasi adalah kebutuhan jangka panjang. Ia menjadi penting bagi orang-orang yang berpikir jangka panjang. Bagi orang yang berpikir ”yang penting sekarang, besok kita pikir lagi” investasi adalah pekerjaan ”nanti dulu”, dengan alasan, tidak ada uang yang bisa disisihkan.

Dan ternyata, orang-orang hebat dalam berbisnis adalah mereka yang selalu berusaha menyisihkan penghasilannya untuk investasi. Setiap mereka mendapatkan hasil dari suatu usaha, ia selalu menyisihkan sebagian untuk pengembangan usahanya. Cukup sederhana bukan?

Kalau begitu, ketekunan ”menyisihkan uang” sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk para karyawan yang bercita-cita punya bisnis. Caranya?

Pertama, ubah cara mengelola uang. Pada umumnya kita menyisihkan uang untuk menabung maupun investasi apabila ada kelebihan uang belanja. Cara ini sama sekali tidak efektif, karena biasanya berapapun uang yang diterima setiap bulan selalu habis untuk memenuhi keinginan belanja yang kurang terkendali. Bahkan banyak yang habis untuk membayar cicilan hutang.

Mulai sekarang ubahlah  cara menyimpan uang. Sisihkan terlebih dahulu penghasilan anda untuk cadangan investasi, baru kemudian diatur belanja bulanan dengan dana yang ada. Misalkan anda punya penghasilan Rp 5 juta, sebulan, segeralah sisihkan sebagian penghasilan tersebut untuk ditabung, baru kemudian sisanya diatur supaya cukup untuk kebutuhan bulanan. Anda belum punya rencara bisnis? Tidak masalah, yang penting mulai menyisihkan uang terlebih dahulu.

Kedua, komitmen waktu. Kerap kali kita merasa sudah terlalu sibuk dengan rutinitas kantor yang juga menguras tenaga. Kuncinya ada di kekuatan cita-cita anda dan komitmen untuk menyisihkan waktu. Bisakah anda menyisihkan 10% saja waktu anda setiap hari? Caranya tidak sulit, kurangi penggunaan waktu yang kurang produktif, misalkan nonton TV terlalu lama. Jika bisa, anda berpeluang memiliki bisnis yang terus berkembang dan dapat lebih siap pensiun dini tanpa harus menunggu pesangon dari perusahaan.

Ketiga, berlatih mengelola manusia alias memimpin. Kepemimpinan yang baik sangat mendukung efektivitas penggunaan waktu. Cobalah anda perhatikan kenapa ada seorang yang dapat memberi pengarahan hanya satu jam di depan karyawan, dan para karyawan langsung bersemangat melaksanakan petunjuk sang pimpinan? Pemimpin bisnis semacam ini cukup meluangkan waktu sedikit untuk mengembangkan bisnisnya. Mereka bisa mengendalikan beberapa kegiatan dalam satu waktu. Tak usah heran, pemimpin semacam ini punya kegiatan sosial yang cukup padat dan bisnisnya tetap dapat berjalan baik.

Jadi siapa bilang untuk mengembangkan bisnis, anda harus meluangkan waktu sekian jam setiap hari?

Bila anda sudah mampu mengikuti langkah di atas, tak lagi jadi soal, anda sekarang karyawan rendahan, supervisor, manajer, calon pensiunan atau jabatan apapun, anda akan siap berlatih mengelola uang menjadi bisnis. Tak perlu dirisaukan pula bisnis apa yang harus anda pilih, karena begitu anda punya niat bisnis, anda tinggal jalan-jalan keliling kota, baca majalah, ikuti seminar-seminar bisnis, pasti akan ada yang bisa anda pilih.

Kembali ke cerita eksekutif yang ingin dipecat tadi. Ternyata setelah benar-benar diPHK, ia agak kelimpungan. Ia coba membuka bisnis, dan hasilnya di luar dugaan, bisnisnya malah bangkrut. Alhasil ia kembali melamar kerja. Maka dari itu, luruskanlah niat untuk berbisnis yang baik. Sesungguhnya Tuhan Maha Pemurah.***
Email: bambangsuharno@telkom.net telp: 021.70228877

Tags: , , , , , , , ,

Leave a Comment